Mimi Campervan dan Tim Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa mendistribusikan dua ekor sapi ke Desa Ohoidertawun di Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara. (Foto: Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID MALUKU TENGGARA – Desa Ohoidertawun menjadi lokasi pertama distribusi hewan kurban dari Mimi Campervan bersama followersnya. Pemilik nama asli Rahmi Syofia ini memercayakan hewan kurban beserta prosesi penyembelihannya kepada Dompet Dhuafa. Meski begitu, Mimi Campervan turut mengawal pendistribusian hewan-hewan kurbannya.

Desa Ohoidertawun di Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara, menjadi lokasi pertama yang disambangi oleh Mimi dan Tim Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa. Di sana, mereka mendistribusikan dua ekor sapi yang didistribusikan kepada kurang lebih 73 kepala keluarga.

Mimi Campervan dengan bahagia membagikan daging-daging kurban ke beberapa rumah penerima manfaat, dengan harapan bisa langsung disajikan dan disantap bersama keluarga mereka.

Mimi Campervan dan Tim Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa mendistribusikan dua ekor sapi ke Desa Ohoidertawun di Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara. (Foto: Dompet Dhuafa)

Kabarnya, masyarakat Desa Ohoidertawun belum pernah merasakan daging kurban sapi. Selama ini, mereka hanya mendapatkan daging kambing yang sudah dimasak, dan satu KK hanya mendapatkan satu mangkuk sup kambing.

“Kaka, kami sangat berterima kasih. Senang rasanya bisa ada kurban sapi di sini. Akhirnya kami bisa merasakan daging kurban sapi yang cukup untuk satu desa,” ujar salah satu masyarakat Desa Ohoidertawun kepada Mimi Campervan dan Tim THK Dompet Dhuafa.

Sebagai informasi, Ohoidertawun merupakan desa terpencil di Kecamatan Kei Kecil. Ada 3 agama yang dianut oleh masyarakat Ohoidertawun, yakni Protestan, Katolik, dan Islam.

Mimi Campervan dan Tim Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa mendistribusikan dua ekor sapi ke Desa Ohoidertawun di Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara. (Foto: Dompet Dhuafa)

Meski berbeda-beda keyakinan, namun hal ini tak membuat semangat dan jiwa kekeluargaan mereka luntur. Bahkan, berkat kekeluargaan yang erat, Desa Ohoidertawun menjadi ikon desa paling damai antar umat beragama.

Ada hal unik yang ditemukan tim dan Mimi Campervan selama proses pencacahan. Alih-alih menggunakan wadah plastik, masyarakat sekitar menggunakan “Kamdada” untuk wadah daging-daging kurban yang akan dibagikan kepada warga. Kamdada merupakan anyaman khas masyarakat Kei.

BACA JUGA  Pasca Tsunami Banten, Warga Huntara Sumur Kembali Rasakan Daging Kurban

Sambil memotong dan mencacah daging kurban, para ibu juga menganyam Kamdada untuk jadi wadah daging kurban yang akan mereka bawa pulang.

Oleh: Ayudia

LEAVE A REPLY