Ilustrasi vitiligo. (Foto: Shutterstock)

ZNEWS.ID JAKARTA – Vitiligo adalah kondisi di mana kulit tidak bisa memproduksi melanin, senyawa yang menentukan warna kulit. Hal ini menyebabkan kulit tampak belang karena warna kulit asli hilang di area tertentu.

Pada dasarnya, vitiligo tidak menular atau berbahaya, tetapi sering kali membuat penderitanya kurang percaya diri karena perbedaan warna kulit yang mencolok.

Dr. Benny Nelson, Sp. D.V.E, dokter spesialis dermatologi venereologi estetika lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa vitiligo termasuk penyakit autoimun, yaitu kondisi di mana sistem imun menyerang sel-sel tubuh sendiri, dalam hal ini melanosit, sel penghasil melanin.

Secara global, sekitar 5 juta orang mengalami vitiligo dengan prevalensi sekitar 0,5–2 persen pada rentang usia di bawah 1 tahun hingga 55 tahun. Di Indonesia, penelitian di RSUP Dr. Soetomo, Surabaya menemukan 115 pasien vitiligo selama tahun 2018–2020, dengan prevalensi 1,4 persen.

Benny menjelaskan bahwa penyebab vitiligo belum diketahui secara pasti, tetapi dipastikan tidak menular.

“Penyebab pasti vitiligo masih belum diketahui, tetapi diduga multifaktorial (disebabkan oleh banyak faktor), seperti faktor genetik, autoimun, stres fisik atau psikis, paparan sinar ultraviolet, zat kimia, atau radikal bebas,” katanya, dilansir dari Antara.

Penderita vitiligo bisa mengalami penyakit penyerta lainnya, seperti penyakit tiroid, anemia pernisiosa, penyakit Addison, lupus, rheumatoid arthritis, inflammatory bowel disease, dan alopecia areata. Selain itu, vitiligo juga bisa menyebabkan tuli sensorineural yang sering terabaikan dan baru disadari saat komplikasi sudah parah.

BACA JUGA  Kisah Hapsoh Sukses Biayai Anak Kuliah dari Usaha Stik Rengat

LEAVE A REPLY