JAKARTA, ZNEWS.id – Gelombang aksi protes di Iran meluas ke lebih dari 100 kota dan wilayah, menandai salah satu periode gejolak terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Unjuk rasa dipicu oleh krisis ekonomi yang kian parah serta ketidakpuasan publik terhadap pembatasan politik.
Aksi yang awalnya berfokus pada kesulitan ekonomi dan melonjaknya biaya hidup kini berkembang menjadi kritik terbuka terhadap sistem pemerintahan Iran. Di sejumlah kota, massa terdengar meneriakkan slogan-slogan bernada politik, mencerminkan perubahan arah tuntutan para demonstran.
Kondisi ekonomi Iran terus memburuk akibat inflasi tinggi dan melemahnya nilai mata uang. Situasi ini membuat banyak warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, memicu kemarahan yang meluas di berbagai lapisan masyarakat.
Pemerintah merespons aksi tersebut dengan pengetatan keamanan. Kelompok hak asasi manusia memperkirakan hingga 500 orang tewas dalam bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.
Ribuan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Selain itu, aparat disebut menangkap hingga 10.000 orang dalam satu malam guna meredam kerusuhan.
Aksi protes ini juga mendapat perhatian internasional. Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan pemerintah Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap demonstran dan menyatakan bahwa “semua opsi terbuka.”
Pernyataan tersebut ditolak Teheran, yang menuding Amerika Serikat dan Israel terlibat dalam memicu kerusuhan serta memperingatkan akan adanya balasan jika terjadi intervensi eksternal.
Meski skala protes terbilang besar, masa depan gerakan ini masih belum pasti. Iran sebelumnya mampu meredam pemberontakan melalui langkah represif dan penangkapan massal. Namun, analis menilai kombinasi krisis ekonomi, kemarahan publik, dan tekanan internasional menjadikan situasi saat ini sebagai salah satu tantangan terberat bagi kepemimpinan Iran dalam beberapa tahun terakhir.



























