Kompleks Candi Muaro Jambi. (Foto: instagram.com/lacultureindo)

Oleh: M Irfan Mahmud (Plt. Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN)

ZNEWS.ID JAKARTA – Akhir-akhir ini kita sering disuguhi isu-isu yang terkesan menegasikan julukan kebanggaan Indonesia. Misalnya, Indonesia dijuluki surga dunia; kaya sumberadaya alam, punya lebih 17.000 pulau; dan dihuni 1340 suku bangsa dari 273,88 juta jiwa penduduk (BPS, 2021).

Indonesia juga dijuluki zamrud khatulistiwa, tapi daya saing pariwisatanya masih berada di belakang negara tetangga; masyarakat agraris, tapi impor pangan; Bhinneka Tunggal Ika, namun sensitifitas isu sara makin mengkhawatirkan; negeri nyiur melambai, tapi mengalami pula antri minyak goreng. Julukan Indonesia itu selalu dibanggakan, meskipun belum sepenuhnya bisa menjadi cermin kesejahteraan.

Fenomena di atas sekaligus menggambarkan semakin pentingnya BRIN menghadirkan ‘scientist etics’ agar riset mampu menyandingkan julukan Indonesia sebanding dengan anugerah potensi alam dan kebudayaannya.

Scientist etics adalah komitmen moral dan normatif peneliti dalam memajukan ekosistem riset sebagai bentuk pengabdian dan tanggung jawab memproduksi pengetahuan dan mendayagunakan anugerah potensi bangsa untuk pembangunan berkelanjutan.

Indonesia Ladang Pengetahuan

Temuan arkeologi lukisan tertua dunia di situs Timpuseng (Maros) tahun 2014 berusia 40.000 BC menjadi awal runtuhnya dominasi cara pandang Eropa centris terkait evolusi seni dan kognitif umat manusia.

Bahkan temuan terakhir di situs Gua Baratedong (Pangkep) semakin memastikan bahwa sejak 45.500 BC Nusantara telah menjadi bagian penting panggung produksi pengetahuan umat manusia.

Di abad ke-7 Masehi, Kerajaan Sriwijaya selanjutnya memberi jejak di situs Muara Jambi peran Nusantara sebagai salah satu pusat destinasi pendidikan unggul. Indonesia juga memiliki kitab sastra dan kaya manuskrip, seperti Nagarakrtagama (Jawa) dan I Lagaligo (Bugis). Bangsa kita punya rekam jejak produksi pengetahuan dan talenta maju.

BACA JUGA  Mengenal Reaktor Nuklir Pertama di Indonesia

Orang Eropa merebut hegemoni pengetahuan dan leluasa memanfaatkan Indonesia selama lebih dua abad sebagai laboratorium riset unggul berskala global. Sejak abad ke-18 penjajah dan orang-orang Eropa sadar bahwa untuk memantapkan kekuasaan mensyaratkan pengetahuan dan pemahaman mendalam tentang bumi Nusantara.

Mereka sangat sadar pentingnya apa yang disebut Michel Foucault (1977) “kuasa pengetahuan”. Justru itu, Indologi dipandang pemerintah kolonial sebagai keharusan.

LEAVE A REPLY