Ilustrasi Pancasila. (Foto: Shutter Stock)

Oleh: Rofadan Mina Arsyada

ZNEWS.ID JAKARTA – Setiap 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahirnya Pancasila, falfasah negara. Pancasila terdiri dari ila yang hampir seluruh masyarakat pasti tahu dan hafal. Bagaimana tidak? Setiap senin dalam upacara pasti ada sesi untuk membacakannya.

Pancasila merupakan dasar, acuan, dan tuntunan untuk bernegara. Seluruh produk hukum yang berlaku di Indonesia bersumber pada nilai-nilai Pancasila, sehingga tidak mungkin bertentangan dengannya.

Pada perumusannya dahulu kala, sejarah menunjukkan bahwa falsafah dasar negara ini dirumuskan dengan tidak mudah dan lancar-lancar saja. Terdapat gejolak yang berpusat pada sila ke-1 mengenai Ketuhanan Yang Mahaesa.

Sejarah mencatat bahwa sila pertama berdasarkan Piagam Jakarta berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Sila tersebut memunculkan kegaduhan antargolongan.

Golongan Islam kala itu diwakili oleh Ki Bagus Hadi Kusumo dan KH A Wahid Hasyim. Ki Bagus Hadikusumo menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, organisasi besar yang memiliki masa besar pula.

Sedangkan KH A Wahid Hasyim merupakan anak dari Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Dengan kerendahan hati, akhirnya tujuh kata tersebut dihapus.

Tapi, tulisan ini tidak akan mengulas mengenai sejarah perumusan Pancasila, namun lebih berfokus pada Pancasila yang kini hanya berada pada level dihafalkan dan tidak diamalkan.

LEAVE A REPLY