Peneliti Eric Marechal dari CEA memegang sampel alga Sanguina nivaloides yang juga disebut “darah salju”, yang kehadirannya mempercepat pencairan salju di Brevent di Chamonix, Prancis, 14 Juni, 2022. (Foto: ANTARA/Reuters/Denis Balibouse)

ZNEWS.ID GRENOBLE – Sambil berdiri di atas lereng bersalju sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut, Eric Marechal memegang tabung berisi alga merah tua yang dikenal sebagai darah salju.

Fenomena darah salju mempercepat pencairan salju di Alpen yang membuat para ilmuwan khawatir.

“Alga ini berwarna hijau. Tetapi di salju, alga ini mengumpulkan sedikit pigmen seperti tabir surya untuk melindungi dirinya,” kata Marechal, direktur penelitian di Pusat Nasional Penelitian Ilmiah di Grenoble, Prancis, dikutip dari Reuters.

Bersama anggota timnya, dia sedang mengumpulkan sampel untuk pengujian laboratorium. Di dekat kakinya, sepetak salju merah terlihat berkilauan di bawah sinar matahari.

Alga tersebut dideskripsikan pertama kali oleh Aristoteles pada abad ketiga Sebelum Masehi. Namun, baru pada 2019 diidentifikasi secara formal dan diberi nama Latin Sanguina nivaloides.

Para ilmuwan kini berlomba memahaminya dengan lebih baik sebelum terlambat. Karena, volume salju berkurang akibat kenaikan suhu global yang melanda pegunungan Alpen. Ada dua alasan kenapa mempelajari alga itu, kata Marechal.

“Pertama, ini adalah kawasan yang baru sedikit dieksplorasi. Kedua, kawasan ini sedang meleleh di depan mata kita. Jadi, (persoalan) ini sangat mendesak,” katanya.

BACA JUGA  Catatan Karang tentang Perubahan Iklim dari Abad Pertengahan dan Masa Kini

LEAVE A REPLY