Ilustrasi makna lagu Gundul-Gundul Pacul. (Foto: Dompet Dhuafa)

Oleh: Dhiya Restu Putra

ZNEWS.ID JAKARTA – Tembang dolanan Gundul-Gundul Pacul. Lagu ini tidak asing lagi di telinga orang-orang Jawa karena sewaktu kecil selalu dinyanyikan bersama kawan lainnya.

Tembang ini sebenarnya tidak hanya difungsikan sebagai sarana untuk hiburan dan permainan. Tetapi, terdapat nilai-nilai moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman atau teladan dalam kehidupan.

Berikut lirik tembang dolanan Gundul-Gundul Pacul:

Gundul-gundul pacul-cul

‘gundul-gundul cangkul-kul’

Gembelengan

‘kepala bergelang-geleng’

Nyunggi nyunggi wakul-kul

‘memikul-mikul bakul-kul (tempat nasi tradisional dari bambu)’

Gembelengan

‘kepala bergelang-geleng’

Wakul glimpang segane dadi sak latar

‘bakul terguling nasinya jadi sehalaman (tumpah)’

Wakul glimpang segane dadi sak latar

‘bakul terguling nasinya jadi sehalaman (tumpah)’

Makna dari tembang tersebut sebagai berikut:

Gundul-gundul pacul-cul

Gundul berartikan tidak memiliki rambut. Sedangkan pacul berarti cangkul atau dalam keratabasa berarti papat kang ucul. Dapat diartikan bahwa kemualiaan dan kehormatan seseorang itu tergantung dari apa yang ada dan diperbuat oleh kepala atau pikirannya.

Otak adalah isi kepala yang paling vital, di sana tempat bersemayam akal yang memengaruhi seluruh gerak dan perbuatan manusia.

Selain itu, masih ada empat organ lain di kepala yang menjadi prajurit akal, yaitu mata, hidung, telinga, dan mulut, yang jika lepas (ucul) dari kontrol akal maka (rasionalitas) akan berbuat semaunya. Maka, pikiran dan perilaku manusia haruslah sejalan dalam berbuat hal-hal baik.

Gembelengan

Pada kata Gembelengan  ini memiliki makna manusia besar kepala, keras kepala, dan kepala batu. Sebagai manusia kita dilarang  bersifat seperti hal-hal tersebut.

Jadi, “gembelengan” ini merupakan sikap seseorang yang kepalanya tidak memiliki akal, atau akalnya tidak mampu mengendalikan keempat indra yang ada di kepala (mata, hidung, mulut, dan telinga).

LEAVE A REPLY