CHINA – Sejumlah kelompok perlindungan para korban di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, China mengatakan sejumlah bukti menunjukkan orang Uighur yang dideportasi dari tetangga China, Tajikistan, meningkat tajam dari 2016 hingga 2018 dan populasi mereka yang tinggal di sana menurun hingga 85 persen.

Pemerintah Turkistan Timur di Pengasingan, Asosiasi Pengawas Hak Asasi Manusia Turkistan Timur, Asosiasi Solidaritas dan Kerjasama Dunia Turki serta diaspora Uighur yang tinggal di Turki mengadakan konferensi pers di sebuah hotel di distrik Zeytinburnu di Istanbul, Selasa, mendesak Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk meluncurkan penyelidikan atas dugaan kejahatan yang dilakukan otoritas China terhadap warga Uighur.

Halit Kanak, kepala Asosiasi Solidaritas dan Kerjasama Dunia Turki, mengatakan kelompok itu mendesak ICC untuk menyelidiki China yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing mulai akhir pekan ini.

“Data yang dikumpulkan melalui studi lapangan mendalam di Tajikistan, Kyrgyzstan, Uzbekistan dan Kazakhstan mengkonfirmasi masalah ini,” ujar dia, seperti dilansir Anadolu Agency.

Kanak juga mengatakan jika penyelidikan diluncurkan, itu akan menjadi yang pertama di Asia Tengah dan proses penyerahan bukti keempat direncanakan dalam beberapa hari ke depan.

Muslim etnis Uighur di Xinjiang telah menjadi sasaran pelecehan selama bertahun-tahun karena identitas dan budaya mereka.

 

BACA JUGA  Pelanggaran HAM di Xinjiang Terus Menjadi Sorotan PBB

LEAVE A REPLY