Ilustrasi kampus. (Foto: glints.com)

Oleh: Faith Aqila Silmi (Penerima Manfaat Bakti Nusa 9 Solo)

ZNEWS.ID JAKARTA – Perlu diingat bahwa isi batok kepala kita yang baunya amis ini dapat digunakan untuk berpikir. Kadang-kadang orang luput memakainya. Paling banter, mayoritas muda mudi masa kini menggunakannya untuk berkhayal, ngelamun.

Utamanya untuk perkara yang bukan-bukan. Apalagi ketika diterpa suntuk menghadapi kuliahan, sembari tak tahan ngempet rindu gak terbalas karena sedang di rantauan.

Nah, supaya agak ngintelek, coba sesekali mahasiswa itu membayangkan yang bukan-bukan untuk urusan agak berkelas. Urusan yang agak keren. Bukan remeh-temeh. Ambilah satu, misalnya, perkara kampus-kampus yang mahadahsyat kita cintai karena rekor MURI-nya ini.

Kalau berani, coba bayangkan jika kampus-kampus itu dijalankan seperti perusahaan. Rektormu itu adalah direktur. Mahasiswa adalah pelanggan, yang melanggan dengan setia jasa pendidikan.

Kampus bercita-cita luhur untuk memuaskan pelanggannya. Sementara itu, perusahaan lain ikut mananam modal. PT ini membangun gedung, PT itu membikin menara, PT nya Pak Anu mendanai acara.

Kampus-kampus kemudian menata diri, mempromosikan prestasi-prestasi. Event-event tahunan diselenggarakan, bangunan dipercantik, ditambahi taman-taman. Hampir-hampir seperti taman rekreasi. Jargon-jargon coba disusun. Mengklaim diri kampusnya paling bergengsi, paling hijau, paling kelas dunia, dan paling-paling lainnya.

Sementara itu, di beberapa meter seberang tembok kampus, orang banyak belum bisa membaca. Pemuda ramai menganggur. Anak kecil merengek tak sekolah.

BACA JUGA  SKB 3 Menteri Wujudkan Toleransi

LEAVE A REPLY