Ilustrasi pembelajaran milenial. (Foto: baktinusa.id)

Oleh: Yonatan Yolius Anggara (Penerima Manfaat Bakti Nusa 9 Yogyakarta)

ZNEWS.ID JAKARTA – Abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi. Artinya, kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan yang fundamental yang berbeda dengan tata kehidupan dalam abad sebelumnya.

Abad ke-21 adalah abad yang meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Dengan sendirinya, abad ke-21 meminta sumber daya manusia berkualitas, dihasilkan oleh lembaga-lembaga yang dikelola secara profesional sehingga membuahkan hasil unggulan.

Tuntutan-tuntutan yang serba baru tersebut meminta berbagai terobosan dalam berpikir, penyusunan konsep, dan tindakan-tindakan. Dengan kata lain  diperlukan suatu paradigma baru dalam menghadapi tantangan-tantangan yang baru, demikian kata filsuf Khun.

Menurut filsuf Khun, apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigm lama, segala usaha akan menemui kegagalan. Tantangan baru menuntut proses terobosan pemikiran (breakthrough thinking process).

Beberapa aspek berubah dengan sangat cepat, termasuk dalam aspek pendidikan. Saat ini, pendidikan berada di masa pengetahuan (knowledge age) dengan percepatan peningkatan pengetahuan yang luar biasa.

Percepatan peningkatan pengetahuan ini didukung oleh penerapan media dan teknologi digital yang disebut dengan information super highway. Gaya kegiatan pembelajaran pada masa pengetahuan (knowledge age) harus disesuaikan dengan kebutuhan pada masa pengetahuan (knowledge age).

Bahan pembelajaran harus memberikan desain yang lebih otentik, di mana peserta didik dapat berkolaborasi menciptakan solusi memecahkan masalah pelajaran.

LEAVE A REPLY