JAKARTA – Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi menjelaskan perbedaan vaksin booster homolog dan heterolog.

“Vaksin booster diberikan setelah seseorang mendapatkan vaksin primer dosis lengkap, bertujuan untuk mempertahankan tingkat kekebalan serta memperpanjang masa perlindungan yang diberikan secara homolog dan heterolog,” kata Siti Nadia Tarmizi saat hadir secara virtual di Instagram Liputan6.SCTV, Kamis.

Menurut Nadia, homolog artinya dosis ketiga menggunakan jenis vaksin yang sama dengan dosis satu dan kedua. Sedangkan heterolog menggunakan vaksin ketiga dengan jenis yang berbeda.

Ia mengatakan perbedaan jenis vaksin terletak pada platform vaksin. Misalnya Sinovac yang dibuat dengan platform inactivated virus atau virus yang dimatikan, AstraZeneca menggunakan adenovirus atau virus adeno hidup yang telah dimodifikasi sebagai ‘pengirim’ protein khusus.

Vaksin lainnya adalah Moderna dan Pfizer yang sama-sama berplatform mRNA atau messenger RNA. Vaksin mRNA merupakan jenis vaksin baru. “Jadi maksudnya jenis vaksin homolog atau heterolog adalah platformnya sama atau berbeda, bukan mereknya,” katanya.

Nadia mencontohkan, jika vaksin primer dosis pertama dan kedua yang diterima Sinovac, maka dosis ketiga homolognya juga bisa vaksin dengan jenis virus yang sudah dimatikan.

“Kalau vaksin Moderna atau Pfizer itu kan vaksin dengan platform mRNA, nanti bisa kalau homolog itu menggunakan jenis vaksin yang platformnya sama,” katanya.

Sementara vaksin booster heterolog adalah salah satu kebijakan pemerintah di mana vaksin heterolog menggunakan vaksin ketiga dengan jenis yang berbeda dengan vaksin primer dosis satu dan kedua.

“Misalnya vaksin Sinovac yang dibuat dari virus yang dimatikan diberikan untuk dosis satu dan dosis kedua, tapi kemudian di dosis ketiga kita berikan vaksin dengan platform mRNA yaitu Pfizer atau Moderna,” katanya.

BACA JUGA  Satgas: Mixing Vaksin untuk Booster Tenaga Kesehatan

 

LEAVE A REPLY