Ilustrasi filosofi debat. (Foto: Pixabay/Free-Photos)

Oleh: Kangen Drivama WMJ (PM Bakti Nusa 9 Padang)

ZNEWS.ID JAKARTA – Tren demokrasi dan media sosial yang meningkat, membawa kita ke proses rekonstruksi kebenaran baru. Saat ini, masyarakat dapat membangun wacana publik online dengan mudah untuk bertukar pandangan mereka dan kemudian mempengaruhi opini publik.

Atas dasar kebebasan berpendapat, masyarakat memiliki kekuatan khusus untuk mengubah status quo berdasarkan pada agregasi kepentingan. Di Indonesia misalnya, media sosial seperti Facebook, Twitter, dan banyak messenger lain digunakan oleh masyarakat untuk melawan Revisi UU yang berujung pada protes nasional.

Di Indonesia, salah satu komponen masyarakat yang secara intensif terlibat dalam proses ini adalah kaum muda. Tidak heran, karena mayoritas pengguna media sosial di wilayah adalah kaum muda.

Dengan kondisi ini, pemuda dan media sosial harusnya menjadi kolaborasi yang sempurna untuk memengaruhi proses pengambilan keputusan yang mendukung kepentingan publik. Namun, kenyataannya mengatakan sesuatu yang berbeda.

Meskipun pemuda memiliki banyak pengguna media sosial, diskusi di media sosial tidak benar-benar sehat. Banyak pengguna menggunakan kebebasan berbicara untuk menyebarkan kefanatikan, kebencian, atau bahkan pandangan politik yang tidak berlandasan.

Di sisi lain, masyarakat yang tidak memiliki pemikiran kritis yang baik sering kali dengan mudah terprovokasi. Oleh karena itu, kita perlu meningkatkan kesadaran tentang bagaimana melakukan debat publik, untuk mendapatkan manfaat darinya.

Adalah benar bahwa masyarakat selalu memiliki cara pandang tersendiri tentang kebenaran dalam ruang publik. Akan tetapi, tulisan ini dimaksudkan untuk dapat memperbaiki diskursus debat yang pada trennya justru memecah masyarakat.

BACA JUGA  Hasto Wardoyo Bagikan "Mantra" Perubahan kepada Ratusan Pemuda di FLC 2020

LEAVE A REPLY