Ilustrasi guru. (Foto: makmalpendidikan.net)

Oleh: Andi Ahmadi (Koordinator Sekolah Literasi Indonesia, Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID JAKARTA– Jika ditanya siapa guru yang paling berpengaruh terhadap kehidupan saya saat ini, maka ia adalah Bu Titah Nurjannah, guru saya sewaktu SD dulu. Sosoknya begitu membekas di hati, bukan hanya karena kecerdasannya, melainkan juga karena kewibawaan dan keteladanannya.

Pada masa awal kemerdekaan hingga awal tahun 2000-an, guru adalah sosok yang begitu mulia dan diagungkan, baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Di sekolah, guru begitu dihormati dan menjadi teladan bagi murid-muridnya, sedangkan di lingkungan masyarakat guru menjadi rujukan, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun pemikiran.

Posisi guru yang begitu agung tersebut bukanlah tanpa sebab. Pasalnya, guru pada saat itu sangatlah menjadi panutan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Slogan “Guru; digugu dan ditiru” benar-benar melekat pada dirinya, bukan sekadar ungkapan tanpa makna. Bahkan, masyarakat tidak akan melihat mata pelajaran apa yang diampu oleh guru tersebut, asalkan dia adalah seorang guru maka masyarakat akan sepakat bahwa ia bisa diandalkan.

Namun, dewasa ini slogan digugu dan ditiru perlahan mulai luntur dari diri sebagian besar guru di negeri ini. Tidak sedikit dari mereka yang dalam menjalankan profesinya hanya sebatas untuk menggugurkan tugas, dan terjebak pada rutinitas mengajar yang kadang minim akan pemaknaan.

Ungkapan guru sebagai orang yang bisa digugu dan ditiru maknanya amatlah dalam. Digugu memiliki arti dipercaya atau dipatuhi, sedangkan ditiru berarti diikuti atau diteladani.

Sudah sepatutnya seorang guru memiliki dua hal tersebut. Segala penyampaian dari guru haruslah sebuah kebenaran yang menumbuhkan keyakinan kepada setiap yang mendengarnya, dan segala tingkah lakunya haruslah menjadi contoh bagi setiap yang melihatnya.

BACA JUGA  Hari Guru Nasional, Menyambut Peran Guru dalam Transisional Learning Model

LEAVE A REPLY