Ilustrasi menciptakan keluarga pengahafal Al-Qur’an. (Foto: DD Sulut)

ZNEWS.ID JAKARTA – Sejarah mengenal Khadijah dan Aisyah di belakang pembawa risalah Islam terakhir. Saat itulah kehormatan wanita berada pada puncaknya, dibebaskan mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, setara dengan kaum laki-laki.

Wanita juga dibebaskan untuk tidak melaksanakan syariat saat sedang halangan, diberi hak waris saat suami atau orang tuanya meninggal, disebutkan Rasulullah bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Seperti dalam pola keluarga Islami, tidak ada keluarga yang sukses tanpa kehadiran sesosok istri salehah di belakang kepala keluarga. Salehah bukanlah istri yang hanya mengenal salat, puasa, atau bahkan haji sekalipun (bergelar hajah) sebagaimana mindset masyarakat kita.

Salehah dalam pengertian sebenarnya adalah sesuatu yang tidak ada batasnya seiring perkembangan zaman tanpa meninggalkan norma-norma keislaman.

Siapa yang tidak ingin mempunyai istri tahu seluk-beluk teknologi, fasih berselancar di internet (untuk hal positif), menyenangkan ketika dipandang suami, segera datang saat dipanggil, berpuasa sunah dengan kesepakatan bersama, sering mengucap kata-kata mesra untuk seluruh anggota keluarga, atau ibu utama bagi anak-anaknya dengan tidak pelit memberi ASI.

Seperti Dra Wirianingsih BcHk. Selain sebagai ibu rumah tangga, banyak aktivitas yang ia lakukan, di antaranya menjadi dosen, kuliah pascasarjana, dan aktivis perempuan. Ia dan suami, Tamim, berhasil mendidik sepuluh anak mereka menjadi penghafal Al-Qur’an.

Lalu, metode apa yang mereka terapkan dalam mendidik putra-putrinya? Kuncinya adalah keseimbangan proses. Begitu simpulan dari metode pendidikan anak-anak sebagaimana tertulis dalam buku “10 Bersaudara Bintang Qur’an.”

BACA JUGA  Wadah Mahabah, 5 Metode Pendidikan Anak

LEAVE A REPLY