Ilustrasi. (Foto: zakat.or.id)

ZNEWS.ID JAKARTA – Para ulama sepakat bahwa hukum asal tanah tidak termasuk harta wajib zakat. Sebab, status asli harta berupa tanah adalah sebagai penunjang kehidupan.

Hal ini berdasarkan pada hadits Rasulullah SAW, “Tidaklah ada kewajiban zakat bagi orang muslim atas hamba sahayanya dan kuda tunggangannya.” (HR Bukhari Muslim)

Mereka menamakan harta tersebut dengan harta untuk qunyah. Di saat yang sama, ulama juga sepakat bahwa tanah yang dijualbelikan, sebagai barang bisnis, menjadi harta yang wajib dikeluarkan zakatnya setiap tahun bila telah mencapai nisab.

Sebab, ketika tanah itu diperjualbelikan, statusnya telah menjadi barang dagangan (‘urudhuttijarah). Dan, ulama sepakat bahwa barang dagangan termasuk harta wajib zakat.

Lantas, bagaimana dengan tanah yang niatnya dijadikan barang investasi jangka panjang; yang pemiliknya menjadikan tanah tersebut sebagai harta simpanan yang akan ia jual beberapa tahun ke depan bila membutuhkan uang?

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa tanah yang diperoleh dengan membeli dan akan dijual pada waktu yang akan datang dengan harapan mendapatkan keuntungan termasuk barang dagangan. Dengan begitu, pemilik tanah itu harus mengeluarkan zakatnya setiap tahun atas nilai tanah tersebut.

Ulama mazhab Maliki membagi perdagangan dalam dua kategori. Pertama, pedagang al-mudir (setiap waktu menawarkan barang).

BACA JUGA  Jenis-Jenis Zakat dan Perhitungan Nisabnya

LEAVE A REPLY