Ilustrasi salat. (Foto: ibtimes.co.uk)

ZNEWS.ID JAKARTA – Salat witir merupakan bagian dari qiyamullail. Bisa dilaksakan setelah salat ba’diyah Isya (sebelum tidur). Atau, dilaksanakan di penghujung malam setelah salat tahajud dan salat sunnah lainnya.

Dalam satu riwayat, sayyidah A’isyah ra berkata, “Rasulullah SAW bertanya kepada Abu Bakar, ‘Kapan kamu salat witir?’ Abu Bakar menjawab, ‘Sebelum tidur’.” Beliau bertanya kepada Umar, ‘Kapan kamu salat witir?’ Umar menjawab, ‘Saya tidur dulu lalu salat witir. Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar, ‘Kamu telah mengambil sesuatu yang teguh.’ Sementara itu, kepada Umar, beliau berkata, ‘Kamu telah mengambil kekuatan’.”

Hadis di atas menunjukkan pelaksanaan setelah tidur atau sebelum tidur memiliki keistimewaannya masing-masing.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُوْمُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمَعَ أَنْ يَقُوْمَ آخِرَهُ فَلْيُوْتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ

“Barangsiapa merasa kuatir tidak bisa bangun pada akhir malam, hendaklah dia mengerjakan salat Witir pada awal malam (sebelum tidur). Serta, barangsiapa mampu bangun pada akhir malam, hendaklah ia berwitir pada akhir malam.” (HR Muslim)

Sehinga, dalam praktiknya, kita bisa memilih apakah witir sebelum tidur (dilaksanakan secara ganjil). Atau, di penghujung malam (secara ganjil pula).

Jadi, kalau sebelum tidur sudah witir, maka ketika malam bangun tahajud, tidak perlu lagi salat Witir. Wallahu alam bish-showab. (ddhk.org)

Oleh: Ustaz H Ahmad Fauzi Qosim

BACA JUGA  Waktu Ideal Minum Air Putih untuk Tingkatkan Imunitas

LEAVE A REPLY