Ilustrasi. (Foto: makmalpendidikan.net)

Oleh: Natalina Manya (Guru Sekolah Cerdas Literasi SDN 264 Wawondula, Luwu Timur, Sulawesi Selatan)

ZNEWS.ID JAKARTA – Namanya Aldy, siswa kelas 6 yang sering berulah. Suatu hari, Aldy datang terlambat. Seharusnya ia segera masuk ke kelas begitu sanksinya selesai dijalankan. Namun, tampaknya ia sengaja tidak segera masuk.

Begitu masuk kelas, dengan santai ia malah senyum-senyum. Saya merasa jengkel dengan ulahnya itu; sudah terlambat, masih juga ‘memancing’ emosi gurunya.

Belum lagi, ia kemudian mengganggu siswa lain yang sedang serius belajar. Keributan dan kegaduhan seolah tidak henti dihadirkan sebagai bentuk ‘pemberontakan’ Aldy.

Untuk mengatasi keras kepalanya tersebut, saya memilih untuk memberi senyum, baru setelah itu bertanya. “Dari mana saja kamu, kok, terlambat?”

“Lambat bangun, Bu,” jawab Aldy singkat.

Dengan senyuman yang tidak dibuat-buat, saya bertanya lagi, “Apa sudah tidak mengantuk sekarang? Kalau masih ngantuk, boleh pulang dulu, lanjutin tidurnya, sayang. Tidak apa-apa, kok, kamu tidak akan Ibu hukum. Silakan saja. Besok lagi kalau memang belum cukup waktumu tidur, meski sudah sudah siang, teruskan saja tidurnya. Ini Ibu kasih waktu untuk tidur lagi. Nanti setelah kamu puas tidur baru kamu datang”.

“Tidak, Bu, saya ingin ikut pelajaran sekarang”.

Dengan ‘senyuman damai’ seperti itu, Aldy terpaksa mengikuti pelajaran saya. Namun, setelah beberapa menit berlalu, minat belajar Aldy kembali menurun. Ini terlihat dari keengganannya untuk mencatat dan mengerjakan latihan. Apalagi jika saya suruh menuliskan jawaban di papan tulis, sikapnya sungguh ‘memprovokasi’.

Saya pun mulai jengkel dan memberi tahu kalau besok masih seperti itu, ia tidak perlu datang ke sekolah. Namun, ancaman saya ini justru tidak membuat Aldy takut atau khawatir.

BACA JUGA  Kecemasan Akademik pada Anak dan Cara Mengatasinya

LEAVE A REPLY