Ilustrasi: Tim SAR DMC Dompet Dhuafa melakukan evakuasi bersama Tim SAR gabungan di runtuhan RS Mitra Manakarra Mamuju, Sulawesi Barat, Minggu (17/1/2021). (Foto: DMC DD)

ZNEWS.ID JAKARTA – Negara Indonesia dikenal sebagai “gemah ripah loh jinawi” atau memiliki ketenteraman, makmur atas suburnya tanah-tanah di Nusantara. Bukan semata berkah saja, namun kesuburan tanah di Indonesia juga berkaitan erat dengan banyaknya jalur gunung api yang memicu kesuburan tanah tersebut.

Namun, dampak dari jalur gunung api tersebut adalah intensitas gempa yang terjadi di Indonesia akan menjadi lebih sering dari negara yang tidak dilalui “cincin api”.

Hingga saat ini, gempa memang tidak bisa diprediksi, namun bukan berarti diam dan menunggu saja. Gejala gempa dan pemetaan gempa dapat dipelajari dalam kajian ilmu ilmiah, sehingga bisa berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa manusia.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr Nuraini Rahma Hanifa, mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk meneliti gerakan dan getaran bawah tanah untuk dipetakan sebagai potensi besar.

Ia bahkan pernah mendapatkan gelar penghargaan Women’s International Network for Disaster Risk Reduction (WIN DRR) Leadership Awards 2021 dari UNDDR di Bangkok atas dedikasinya sebagai perempuan untuk mempelajari pemetaan dan karakteristik gempa.

“Penelitian saya di bidang Teknik Geodesi, Geomatika, dan Geospatial bertujuan untuk memahami geodnamika bumi untuk studi sains dan rekayasa kegempaan, tsunami, dan disaster science, tapi saya lebih nyaman menyebutnya Geosains,” kata Nuraini Rahma.

Indonesia merupakan negara kepulauan dan juga negara seismik aktif, sehingga banyak sekali terjadi gempa, tsunami dan bencana alam lainnya yang memakan korban, mengakibatkan kerusakan dan kerugian ekonomi. Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah populasi yang sangat banyak, terdapat lebih dari 200 juta penduduk yang perlu dilindungi dari ancaman bencana alam.

BACA JUGA  BMKG Minta Masyarakat Waspada Setelah Gempa Beruntun

LEAVE A REPLY