Ilustrasi: Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Papua bersama Posyandu Lestari mengadakan kegiatan khitanan massal di Kampung Holtekamp, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Rabu (18/8/2021). (Foto: LKC DD Papua)

ZNEWS.ID JAKARTA – Dokter spesialis bedah umum dari Universitas Hasanuddin, dr Asrul Muhadi SpB, menyarankan anak laki-laki sebaiknya sudah menjalani sirkumsisi atau sunat saat bayi.

“Indikasi sunat sekarang tidak harus menunggu anak berusia 7 tahun. Paling baik sejak lahir,” ujar dia dalam webinar dengan topik “Sunat Aman dengan Metode Modern”, Senin (22/11/2021).

Walau begitu, menurut Asrul, saran ini bisa tergantung pada sejumlah hal. Misalnya, apabila berpegang pada agama Islam, biasanya usia menjelang akil balig atau cukup umur yakni usia 7 tahun.

“Tetapi, dalam beberapa literatur, bisa sejak lahir. Ini lebih bagus,” kata dia menegaskan kembali.

Hal senada juga diungkapkan Founder Rumah Sunat dr Mahdian, dr Mahdian Nur Nasution SpBS. Menurut dia, sunat saat bayi memungkinkan luka lebih cepat pulih dan tak menimbulkan trauma anak, khususnya pada jarum suntik pada metode bius yang menggunakan jarum suntik.

“Selain lebih cepat sembuh juga karena kalau dilakukan pada usia sekolah misal SD, anak sudah ingat sehingga akan menyebabkan fobia,” tutur dia.

Mahdian berpendapat, pada masa pandemi Covid-19 saat ini sebagian orang yang ketakutan sekali saat divaksin umumnya karena fobia jarum suntik akibat pembiusan menggunakan jarum suntik dalam proses sunat.

BACA JUGA  Rindu Ingin Pulang, Perawat Covid-19 Tetap Taati Protokol Kesehatan

LEAVE A REPLY