Ilustrasi. (Foto: dompetdhuafa.org)

Oleh: Kangen Drivama WM Jumardi (PM Bakti Nusa 9 Padang)

ZNEWS.ID JAKARTA – Penulis masih ingat. Saat itu, bus kami tengah melaju menuju salah satu destinasi yang direncanakan oleh pihak universitas Kein-Giang, Vietnam. Dalam agenda kampus yakni Kuliah Kerja Nyata, penulis dipandu oleh beberapa dosen asal Kein-Giang yang mengajar Bahasa Inggris.

Seperti perjalanan pada umumnya, penulis dan rombongan terlibat dalam obrolan santai tentang daerah yang kami lewati, budaya Vietnam, serta tentang masyarakat Vietnam yang terkenal mayoritas atheis. Hal ini tidakmengherankan, sebab dalam konstitusi Vietnam yang lahir dari komunisme, sedari awal tidak mengakuieksistensiTuhan.

Walaupun, seiring berjalananya waktu, Vietnam mulai terbuka dengan agama karena pengaruhnya tidak dapat dihilangkan secara total dari kebutuhan warga negara. Berangkat dari obrolan agama ini, salah satu teman penulis kemudian mendapatkan pertanyaan yang membingungkan:

“What’s your God’s sex? Tuhan kamu, perempuan atau laki-laki?”

Pertanyaan di atas tentu sangat mudah dijawab jika diajukan oleh anak-anak. Dengan jawaban “kurang tahu juga” atau dengan pengalih perhatian seperti mainan, niscaya pertanyaan tersebut selesai. Namun, cerita menjadi berbeda ketika diajukan oleh seorang dosen. Hal yang lebih membingungkan yaitu bagaimana memberikan pemahaman beragama versi Islam yang meyakini Tuhan tidak pernah sama dengan segala makhluk kepada seseorang yang hidup dinegara mayoritas atheis seperti Vietnam.

Teman penulis yang memilih untuk bermain aman akhirnya menjawab “Our God has no sex” sambil menunjukkan wajah yang juga bingung. Barangkali menangkap karena ekspresi yang bingung, dosen tersebut juga tidak yakin untuk kembali bertanya dan percakapan kami berhenti tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Kendati momen tersebut berlalu begitu saja, ketika kembali ke Indonesia, penulis diburu oleh pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

“Bagaimana filsafat menjelaskan jenis kelamin Tuhan? Bagaimana jika kita dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan sejenis seperti jika Tuhan Maha Mengetahui, apakah manusia memiliki kehendak bebas? Atau, sejak kapan Tuhan ada?”

LEAVE A REPLY