Ilustrasi pernikahan. (Foto: unsplash)

ZNEWS.ID JAKARTA – Pada dasarnya, pernikahan dalam Islam dinyatakan sah apabila memenuhi rukun nikah. Yakni, ada kedua calon pasangan, ada dua saksi, wali dari pihak wanita, dan ijab kabul.

Semua itu menjadi syarat wajib untuk dipenuhi. Nikah di depan tokoh agama (kiai, ustaz, ulama) sebagian sering dinyatakan dengan istilah siri, istilah yang populer di kalangan masyarakat untuk pernikahan yang sah secara agama, tapi tidak tercatat di dokumen negara.

Sedangkan, di Indonesia hukum yang mengatur tentang pernikahan telah dimuat pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Pernikahan.

Sahnya suatu pernikahan menurut UU Pernikahan ini tertera pada pasal 2 ayat (1) yang berbunyi “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.”

Selanjutnya, Pasal 2 ayat (2) menyebutkan tiap-tiap perkawinan dicatat menurut perundang-undangan yang berlaku.

Apabila telah dilaksanakannya nikah siri atau nikah di depan kiai atau ulama, untuk mendaftarkan pernikahan tersebut secara sah tercatat dalam hukum negara, maka hal yang dapat dilakukan adalah mengajukan itsbat nikah ke pengadilan agama. Sehingga, tidak perlu dilakukannya ijab kabul ulang.

Sebaiknya dilakukan secepatnya, karena pencatatan pernikahan (buku nikah, akta nikah) sangat penting di negara kita. Di antaranya, untuk mengurus dokumen, menegaskan status anak, dan supaya tidak ada pihak yang dirugikan apabila terjadi perceraian.

BACA JUGA  Tata Cara dan Panduan Penyelenggaraan Salat Gerhana saat Pandemi

LEAVE A REPLY