Ilustrasi: Dompet Dhuafa resmi membangun sumur bor “Air untuk Kehidupan” yang bisa dimanfaatkan warga Dusun Gabu Kulon, Desa Suro, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. (Foto: Dompet Dhuafa)

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie (Direktur Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa, Founder dan CEO Ekselensia Tahfizh School)

ZNEWS.ID JAKARTA – Tiga unsur vital dalam kehidupan adalah air, pangan, dan energi. Semua makhluk hidup dan sektor kehidupan membutuhkan air, pangan, dan energi. Kita bisa membayangkan betapa kehidupan akan menjadi sangat sulit, bahkan bisa menjadi malapetaka bila terjadi defisit air, pangan, dan energi.

Itulah mengapa Rasulullah memberikan tuntunan dan prinsip dasar dalam mengelola ketiganya. Kita bisa menyimaknya dari sabda Rasulullah, “Manusia berserikat atas tiga hal; air, padang rumput, dan api.” (HR Ibnu Majah)

Air sudah jelas maknanya, padang rumput dapat dipahami tanaman pangan, dan api bermakna energi. Rasulullah mengajarkan sumber air, pangan, dan energi mesti dimiliki secara berserikat. Tidak boleh dimiliki secara perorangan atau kelompok orang.

Karenanya, sumber air, pangan, dan energi tidak boleh diprivatisasi dan dimonopoli. Ketiganya adalah milik publik karena menyangkut hajat hidup orang banyak.

Itulah mengapa konstitusi negeri ini pun mengaturnya, sebagaimana termaktub dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) 1945 pasal 33 ayat 3, Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Namun demikian, faktanya privatisasi air, pangan, dan energi terjadi di negeri ini. Berapa banyak sumber air, pangan, dan energi yang telah dikuasai perusahaan swasta? Kemudian, mereka mengeruk keuntungan besar-besaran dari kekayaan alam negeri ini. Bukan untuk distribusi kesejahteraan, melainkan untuk menumpuk kekayaan.

Air, pangan, dan energi serta manfaatnya semestinya bisa dinikmati dan didistribusi secara adil dan merata kepada seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya perusahaan swasta atau kelompok orang. Karenanya, perlu pendekatan anti mainstream dalam mengelola dan memanfaatkan sumber air, pangan, dan energi untuk kemaslahatan umat.

BACA JUGA  Meninggalkan Pahala Abadi dengan Sedekah

LEAVE A REPLY