Gedung Kantor Pos Cikini yang telah berdiri sejak 1920. (Foto: Instagram.com/@disparekrafdki)

ZNEWS.ID JAKARTA – Masyarakat mengenal Jalan Cikini Raya sebagai lokasi Perguruan Cikini, yakni sekolah bagi anak pejabat dan orang berduit, lokasi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tempat lahirnya seniman dan aktor terkenal, hingga lokasi Taman Ismail Marzuki (TIM) tempat digelarnya berbagai pertunjukan seni.

Tapi, lebih dari itu, kawasan Cikini menyimpan cerita dan sejarah panjang yang mengiringi perjalanan Jakarta sejak zaman kolonial hingga saat ini. Berbagai catatan menyebutkan lahan di Kawasan Cikini pada zaman kolonial dimiliki oleh seorang pelukis keturunan Jawa-Arab yang menjadi kaum sosialita kalangan atas. Namanya bukan hanya dikenal di Jawa, namun juga sampai ke Eropa.

Nama pelukis itu adalah Saleh Sjarif Boestaman atau Raden Saleh, yang merupakan salah satu pelukis legendaris yang karyanya melegenda hingga saat ini. Menurut berbagai catatan, setelah sekitar 20 tahun belajar, berkarya, hingga tinggal di berbagai belahan wilayah Eropa bahkan di Aljazair, Raden Saleh akhirnya kembali ke Jawa, membeli lahan luas dan membangun rumah yang didasarkan Istana Callenberg di lokasi yang sekarang menjadi Rumah Sakit PGI Cikini.

Saking luasnya lahan yang dimiliki, Raden Saleh kemudian menghibahkan untuk dijadikan kebun binatang dan taman umum pada 1862. Akhirnya, semua lahannya di Cikini dihibahkan kepada pemerintah kolonial setelah Raden Saleh meninggal pada 23 April 1880 dan menyusul istrinya Raden Ayu Danudirja tiga bulan kemudian.

Pemandangan Jalan Cikini dari arah Atap Gedung Parkir Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta. (Foto: ANTARA/Ricky Prayoga)

Perkembangan Cikini

Setelah dikuasai pemerintah, Cikini awalnya diproyeksikan sebagai penunjang kawasan perumahan orang-orang Eropa di Nieuw Gondangdia. Sekarang dikenal sebagai kawasan Menteng yang ditandai dengan hadirnya kawasan pertokoan dan didirikannya Kantor Pos Cikini (Tjikini Post Kantoor) pada 1920.

Kantor pos yang terletak di mulut Jalan Cikini ini dibangun dengan tujuan melayani pengiriman berbagai surat dan barang serta menjamin agar surat-surat para penduduk. Terutama bagi pedagang yang datang dari luar Jawa dan kerap bepergian ke luar dan masuk Belanda tetap aman.

BACA JUGA  Pesta sastra di Jakarta International Literary Festival 2019

Dengan gedung tua bergaya artdeco yang bertahan dan masih beroperasi saat ini, kantor pos pertama di Indonesia yang buka 24 jam ini, kini menjadi salah satu ikon kawasan Cikini. Tak jauh dari kantor pos, berdiri salah satu pusat bisnis yang pertama berdiri di Cikini, yakni pabrik Roti Tan Ek Tjoan.

LEAVE A REPLY