Ilustrasi zakat. (Foto: Shutterstock)

ZNEWS.ID JAKARTA – Zakat perdagangan atau perniagaan adalah zakat yang dikeluarkan dari harta niaga. Sedangkan, harta niaga adalah harta atau aset yang diperjualbelikan dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan.

Dengan demikian, dalam harta niaga harus ada dua motivasi, motivasi untuk berbisnis (diperjualbelikan) dan motivasi mendapatkan keuntungan.

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan, janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan, ketahuilah bahwa Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji.” (QS Al Baqarah ayat 267)

Para ahli fikih berpendapat bahwa kalimat “(di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik” pada ayat di atas menjadi dasar bagi zakat perniagaan. Dalil yang paling kuat tentang zakat perniagaan adalah ijmak (kesepakatan) ulama.

Harta perdagangan yang dikenakan zakat dihitung dari aset lancar usaha dikurangi utang yang berjangka pendek (utang yang jatuh tempo hanya satu tahun). Jika selisih dari aset lancar dan utang tersebut sudah mencapai nisab, maka wajib dibayarkan zakatnya.

Nisab zakat perdagangan senilai 85 gram emas dengan tarif zakat sebesar 2,5% dan sudah mencapai satu tahun (haul). Berikut cara menghitung zakat perdagangan:

2,5% x (aset lancar – utang jangka pendek)

Misal:

Bapak/Ibu A memiliki aset usaha sembako senilai Rp 200.000.000 dengan utang jangka pendek senilai Rp 50.000.000. Jika harga emas saat ini Rp 918.000 per gram, maka nisab zakat senilai Rp 78.030.000.

BACA JUGA  Zakat Setiap Saat

LEAVE A REPLY