Ilustrasi hati-hati terjebak toxic positivity. (Foto: medicalnewstoday.com)

ZNEWS.ID JAKARTA – Praktisi Mindfulness dan Emotional Healer, Adjie Santosoputro, mengingatkan bahwa seseorang perlu berhati-hati terhadap jebakan pahit dari berpikir positif atau toxic positivity dan lebih menyadarinya dari sudut pandang kesadaran penuh (mindfulness).

“Di awal perjalanan, kita perlu berlatih berpikir positif daripada kita berpikir negatif. Tetapi kita cenderung seolah-olah selalu memberi gula [terhadap berpikir positif] dan itu malah berbahaya karena kita tidak mempersiapkan worst case-nya, kita optimis bias,” kata Adjie dalam diskusi daring, dikutip dari Antara, Rabu (13/10/2021).

Ia mengatakan bahwa pada dasarnya seseorang hanya perlu melatih untuk menyadari pikiran saja, bukan malah mengendalikan pikiran, baik itu pikiran positif maupun pikiran negatif.

Menurutnya, dikotomi antara pikiran positif dan negatif hanyalah permainan pada ranah “think” atau “thought” yang bersifat sekejap dan akan segera berlalu.

“Berpikir (think) dan kesadaran (awareness) itu sesuatu yang berbeda. Selama kita masih terjebak dalam “thinking”, kita akan terus saja berkelahi antara pikiran positif dan negatif, atau optimis-pesimis. Untuk lebih sehat dari sudut pandang mindfulness, kita ambil jarak dengan think dan thought itu,” ujarnya.

Adjie menambahkan, perasaan sedih yang dialami orang lain dapat memicu ketidaknyamanan pada diri sendiri sehingga seseorang menjadi cenderung untuk mengajak dan menarik orang lain agar menjauhi perasaan sedih hingga tidak menyadari dirinya dapat terjebak dengan pikiran positif yang beracun (toxic positivity).

“Oleh karena itu, agar mengurangi kemungkinan kita untuk menjadi pelaku toxic positivity harus dimulai dari diri kita sendiri. Kita perlu berlatih menerima rasa sedih dengan cara berlatih be mindful to our sadness, jadi embrace the sadness,” ujarnya.

BACA JUGA  7 Jenis Rasa Lapar dan Cara Mengendalikannya

LEAVE A REPLY