Ilustrasi detekai dini preeklamsia. (Foto: parents.com)

ZNEWS.ID JAKARTA –  Deteksi dini masalah preeklamsia pada ibu hamil penting untuk mencegah risiko komplikasi hingga kematian pada ibu dan janin. Dokter Spesialis Obsteri dan Ginekologi, dr Aditya Kusuma SpOG, mengatakan bahwa preeklamsia adalah gangguan tekanan darah yang hanya terjadi pada kehamilan dan dapat menyebabkan komplikasi, termasuk kerusakan pada organ vital, khususnya ginjal dan hati.

Preeklamsia sendiri, kata dokter lulusan Universitas Indonesia itu, biasanya dimulai setelah minggu ke-20, namun seringnya menimpa ibu hamil yang sebelumnya tidak memiliki riwayat hipertensi.

“Preeklamsia ini munculnya tiba-tiba, kalau dia udah ada hipertensi sebelum hamil berarti bukan preeklamsia. Ibu hamil biasanya tidak terlalu aware kalau tensinya tinggi karena sebelum hamil diperiksa tensinya baik-baiknya,” ujarnya dalam webinar dikutip dari Antara, Rabu (13/10/2021).

Aditya menyebutkan beberapa gejala umum yang alami oleh ibu hamil yang menderita preklamsia, di antaranya adalah sakit kepala parah, gangguan penglihatan, tekanan darah tinggi, naiknya berat badan dengan cepat, mual, sakit pada area abdominal, protein pada urin dan bengkak pada tangan dan kaki.

Untuk mendeteksi ada tidaknya preeklamsia pada ibu hamil, biasanya dilakukan dengan dua cara yaitu pemeriksaan tekanan darah dan urin untuk melihat apakah terdapat kandungan protein atau tidak.

“Tapi, tidak semua ibu hamil yang proteinnya positif terkena preeklamsia. Ada yang proteinnya negatif tahunya malah kebobolan dan ibunya tiba-tiba kejang atau gagal ginjal, ini adalah pe-er besar, jadi sebenarnya tidak hanya berdasarkan tensi tinggi dan urin positif saja,” kata Aditya.

Dia mengungkapkan pentingnya melakukan pemeriksaan biomarker sFlt-1 dan PlGF untuk mengetahui resiko terjadinya preeklamsia pada usia kehamilan dini. Tes ini dapat dilakukan saat usia kehamilan 11-13 minggu.

BACA JUGA  Pos Sehat KIA Wujudkan Kesehatan Ibu dan Anak di Aceh

LEAVE A REPLY