Ilustrasi hukum zakat dari hasil korupsi. (Foto: magazine.job-like.com)

ZNEWS.ID JAKARTA – Zakat merupakan rukun islam keempat yang tujuannya membersihkan harta dan membersihkan jiwa. Namun, tujuan tersebut sering disalahartikan bahwa zakat dapat menyucikan harta dari hasil berbuat curang atau korupsi.

Dalam buku Say No To Korupsi (2012) karya Juni Sjafrien Jahja memaparkan bahwa kata korupsi berasal dari bahasa latin corruptio atau corruptus. Sementara itu, arti kata korupsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.

Dengan kata lain, korupsi adalah perbuatan pejabat atau pemegang kepercayaan dengan menggunakan kekuasaannya untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Tidak jarang pejabat atau pemegang kekuasaan memiliki banyak cara agar tidak ketahuan, salah satunya gimmick menyucikan harta korupsi dengan berzakat.

Zakat Menyucikan Jiwa

Sebelum membahas hukum zakat dari hasil korupsi, kita harus paham bahwa zakat menyucikan jiwa berasal dari surah Asy-Syams ayat 9:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).”

Dalam surah Asy-Syams ayat 9, salah satu cara menyucikan jiwa adalah dengan mengeluarkan zakat karena sebagian harta kita terdapat titipan bagi mereka yang berhak. Secara spesifik, perintah berzakat tertera dalam surah At-Taubah ayat 103:

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Kecintaan pada harta dapat menimbulkan perbuatan serakah dan egois hingga akhirnya tidak bisa membedakan mana baik dan buruk. Semuanya diambil untuk memenuhi kebutuhan ego sambil berlindung di balik kata “realistis”.

BACA JUGA  Potensi dan Keberhasilan Keuangan Syariah Untuk Pencapaian TPB DI Indonesia

LEAVE A REPLY