Ilustrasi salat. (Foto: shutterstock.com)

ZNEWS.ID JAKARTA – Praktik salat yang dilakukan dari zaman nenek moyang kita sampai saat ini umumnya banyak yang menggunakan standar salat yang dijelaskan oleh mazhab Syafi’i. Hal ini terjadi sebab mayoritas penduduk Indonesia umumnya bermazhab Syafi’i.

Para ulama yang menyebarkan Islam di Nusantara tentu saja juga ulama-ulama yang bermazhab Syafi’i. Sehingga, dengan sendirinya praktik salat pun berpatokan pada fikih mazhab Syafi’i.

Tulisan ini akan memaparkan sifat salat Nabi Muhammad SAW berdasarkan mazhab Syafi’i, sebagaimana ditulis oleh Muhammad Ajib Lc MA, dalam bukunya Dalil Sahih Sifat Shalat Nabi ala Mazhab Syafi’i.

Duduk Istirahat

Ketika hendak berdiri ke rakaat kedua dan ke empat disunnahkan terlebih dahulu duduk sejenak. Duduk ini disebut dengan duduk istirahat. Posisinya seperti duduk Iftirosy.

Dari sahabat Malik bin al-Huwairits Radhiyallahu anhu bahwa Nabi SAW ketika salat pada rakaat ganjil tidak akan berdiri langsung ke rakaat selanjutnya kecuali beliau duduk terlebih dulu. (Hadis riwayat Bukhari)

Mengangkat Kedua Tangan ketika Hendak Berdiri ke Rakaat Ketiga

Satu-satunya mengangkat tangan yang disunahkan ketika hendak bangun ke rakaat selanjutnya adalah pada saat bangun ke rakaat ketiga saja. Adapun ketika hendak berdiri pada rakaat lainnya tidak disunahkan untuk mengangkat kedua tangan.

Dari sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu berkata: “Nabi SAW ketika salat mengangkat kedua tangannya sejajar degan bahu, dan mengangkat kedua tangan ketika hendak rukuk, dan mengangkat kedua tangan ketika bangun dari rukuk, dan mengangkat kedua tangan ketika bangun dari tasyahud awwal.” [Hadis ini menurut Imam Tirmidzi adalah hadis sahih. (Hadis riwayat Abu Dawud)] (ddhk.org)

Editor: Agus Wahyudi

BACA JUGA  Sifat Salat Nabi: Mengangkat Kedua Tangan Ketika Takbiratul Ihram (15)

LEAVE A REPLY