Ilustrasi: Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cibengang, Tasikmalaya, Jawa Barat, membuat media tanam dari bambu dan polibag lewat program Sekolah Ramah Hijau. (Foto: makmalpendidikan.net)

Oleh: Agung Pardini (General Manager Sekolah Kepemimpinan Bangsa LPI Dompet Dhuafa, Mentor Sekolah Guru Indonesia dan Konschooltan Madrasah 5.0)

ZNEWS.ID JAKARTA – Perkembangan dunia modern telah menyebabkan dislokasi psikologis pada dataran perorangan, dan dislokasi sosial-ekonomi pada dataran masyarakat. Menurut Kuntowijoyo (1999: 108-109), manusia modern perlu pembaharuan etik supaya tetap ada relevansi antara nilai-nilai dengan kenyataan aktual. Etika Islam yang berpegang pada ajaran falsafah “amar ma’ruf nahi munkar”, dapat dijadikan sebagai counter revolution atau antitesis terhadap kapitalisme dunia modern.

Pendidikan, termasuk pendidikan keagamaan yang diselenggarakan oleh madrasah tidak hanya dijadikan sebagai sarana mobilitas sosial dalam memperkuat struktur kelas menengah, namun dengan semakin terbukanya akses untuk mendapatkan pendidikan, seharusnya semakin terbuka kesempatan bagi masyarakat untuk bisa meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik, lebih positif, dan lebih berkualitas.

Tujuan pendidikan Islam pada pesantren dan juga madrasah sejak zaman lampau adalah membentuk kepribadian muslim. Untuk menghadapi permasalahan modernisasi, perlu dilakukan gerakan penyempurnaan sistem pendidikan agama di lembaga-lembaga pendidikan Islam, yang salah satunya tentu adalah madrasah.

Penyempurnaan sistem pendidikan Islam tersebut, menurut M. Saleh Muntasir (1985), pada intinya merupakan pengembalian kepada sistem yang lebih besar, yakni sistem Ketuhanan, yang menjadikan setiap pribadi menjadi pribadi yang bertakwa atau muttaqin. Tarbiyah atau pendidikan dalam Islam mengarahkan kepribadian muslim terus lestari dan bahkan terus berkembang matang agar selaras dengan nilai-nilai dan prinsip Islam.

Tarbiyah Islamiyyah itu sendiri memang berarti menumbuhkan dan membentuk muslim yang mutakamil (integral) dan menyeluruh pada sasaran yang mencakup seluruh dimensi kemanusiaan,baik jasadi (fisik), akli (intelektual), dan ruhi (moral). Maka dari itu, metodologi ataupun pendekatan, dan instrumen-instrumen yang digunakan semestinya juga harus memenuhi standar dan nilai-nilai Islam (Abu Ridho, 1994).

BACA JUGA  Madrasah dan Negara (1)

Nilai-nilai Islam inilah yang menjadi sumber bagi penegakan pilar-pilar budaya madrasah. Sehingga dalam sistem insruksional atau sistem pembelajaran di madrasah harus bersandarkan pada budaya madrasah yang bersumber dari nilai-nilai Islam tersebut. Namun, di sisi lain, agar tak lekang digerus zaman, madrasah sudah selayaknya untuk lebih serius lagi untuk bertransformasi menjadi lembaga pendidikan Islam yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan atau karakteristik generasi milenial.

Kecenderungan yang berlangsung di Indonesia pascagerakan Reformasi 1998 adalah mencoba menggalakkan model desentralisasi pendidikan. Salah satunya adalah dengan cara menggalakkan model Manajemen Berbasis Sekolah atau MBS. Di tengah masa transisi demokrasi, menurut Agustiar Syah Nur (2001: 6) gerakan otonomi pendidikan terus menguat, walaupun sayangnya belum ada keyakinan bahwa kebijakan ini akan dapat memberi dampak yang lebih signifikan terhadap perbaikan kualitas pendidikan.

LEAVE A REPLY