Ilustrasi siswa sekolah. (Foto: makmalpendidikan.net)

Oleh: Natalina Manya (Guru Sekolah Cerdas Literasi SDN 264 Wawondula, Luwu Timur, Sulawesi Selatan)

ZNEWS.ID JAKARTA – Saya ditugaskan untuk memegang kelas 4C. Kelas ini dianggap paling tidak bisa disiplin, nakal, kacau, dan macam-macam gelar negatif lainnya.

Pertama kali masuk bertatap muka, saya sudah dibuat terpana dengan perilaku dan kata-kata mereka. Ada siswa yang begitu enteng mengucapkan kalimat kasar dan tidak sopan kepada temannya. Ucapan yang membuat saya sendiri sangat malu mendengarnya.

Tentu saja saya ingin melakukan perubahan di kelas. Hasil mengikuti pelatihan manajemen kelas menjadi bekal saya untuk mengubah kegaduhan di kelas menjadi antusiasme siswa.

Saya berupaya merangkul siswa yang dicap ‘nakal’ dengan hati. Tidak mesti kekerasan bisa diatasi dengan kekerasan pula.

Yang pertama-tama saya lakukan adalah membuat dan menegakkan peraturan. Peraturan ini berlaku untuk seluruh siswa 4C.

Berikutnya, proses pembelajaran di kelas tidak akan berjalan dengan baik jika hanya dilakukan dengan monoton dan serius. Saya harus bisa bersenda gurau dan memancing tawa siswa.

Media audio-visual saya jadikan peranti ampuh untuk mengusir rasa jenuh dan kantuk siswa. Agar siswa betah duduk dengan ceria, saya memadukan pembelajaran dengan bermain.

BACA JUGA  Sambut Hari Pahlawan, KAI Bagikan 10.000 Tiket kepada Guru dan Nakes

LEAVE A REPLY