Ilustrasi salat. (Foto: Istimewa)

ZNEWS.ID JAKARTA – Praktik salat yang dilakukan dari zaman nenek moyang kita sampai saat ini umumnya banyak yang menggunakan standar salat yang dijelaskan oleh mazhab Syafi’i. Hal ini terjadi sebab mayoritas penduduk Indonesia umumnya bermazhab Syafi’i.

Para ulama yang menyebarkan Islam di Nusantara tentu saja juga ulama-ulama yang bermazhab Syafi’i. Sehingga  dengan sendirinya praktik salat pun berpatokan pada fikih mazhab Syafi’i.

Tulisan ini akan memaparkan sifat salat Nabi Muhammad SAW berdasarkan mazhab Syafi’i, sebagaimana ditulis oleh Muhammad Ajib Lc MA, dalam bukunya Dalil Sahih Sifat Shalat Nabi ala Mazhab Syafi’i.

Membaca tahiyat atau tasyahud akhir hukumnya wajib. Adapun redaksi bacaanya ada lima riwayat hadis yang sahih. Namun, dari kelima riwayat itu yang paling afdal adalah riwayat Imam Muslim dari sahabat Ibnu Mas’ud.

Dalil pertama: Dalam masalah membaca tasyahud Akhir, mazhab Syafi’i menggunakan dalil sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ad-Daruqutni dan Imam Al Baihaqi: “Dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu bahwa sebelum diwajibkan tasyahud kami mengucapkan ‘assalamu alallah dan seterusnya’ kemudian Nabi SAW mengatakan: ucapkanlah ‘At-Tahiyyatu Lillah’.” (Hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Wajhul istidlalnya adalah pada kalimat “Qabla An Yufrodho Alaina”. Ini artinya bahwa kemudian membaca tasyahud itu diwajibkan setelah Nabi SAW mengajarkan redaksi bacaannya yang benar.

Dalil kedua: Adapun redaksi bacaan tasyahud yang dibaca adalah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi: “Dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi SAW: At-Tahiyyaatul Mubaarokatus Sholawaatut Toyyibaatu Lillah, Assalamu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu Warohmatullahi Wabarokatuh, Assalamu Alaina wa ala Ibadillahis Shalihiin, Asyhadu allaa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar Rasulullah.” (HR Muslim) (ddhk.org)

BACA JUGA  Sifat Salat Nabi: Mengangkat Kedua Tangan Ketika Takbiratul Ihram (15)

Editor: Agus Wahyudi

LEAVE A REPLY