Ilustrasi Maria Al-Qibthiyah, istri Rasulullah. (Ist)

Oleh: Nadya Anggraini (Kepala Sekolah SOC, PM Bakti Nusa 9 Palembang)

ZNEWS.ID JAKARTA – Maria Al-Qibthiyah, hamba sahaya dari Mesir. Nama lengkapnya Maria binti Syama’un, dari suku Qibthi di negara Mesir. Ibunya keturunan bangsa romawi sedang ayahnya adalah seorang laki-laki dari Qabthi.

Maria berparas sangat cantik, rambutnya ikal, kulitnya putih. Sikapnya sopan dan ia juga cerdas. Beruntung, ia mewarisi kecantikan ibunya dan lebih beruntung karena ia tidak mewarisi ayahnya yang berkulit hitam-legam layaknya seorang budak dengan ciri khas parasnya.

Di sela-sela pekerjaannya, dia tetap memperkaya dirinya dengan membaca kitab-kitab. “Maria, kamu, kok, membaca kitab terus? Ingat, Maria, kita hamba sahaya. Tidak ada gunanya menjadi pintar. Kita tetap akan seperti ini, mejadi budak. Ya, cukup dengan tenaga, kita kerjakan tugas kita.”

Maria hanya tersenyum menanggapi kalimat-kalimat dari teman seperbudakannya. “Aku tidak mau menjadi hamba sahaya biasa. Meskipun hidup kita terikat kepada majikan tapi cara berpikir kita tidak, bukan berarti kita tidak boleh menjadi pintar, bukan? Jawab Maria dengan senyum optimisnya.

Bait ini mengajarkan saya bahwa meski raga terjajah, tapi otak-pikiran tetap bisa merdeka.

Maria merupakan budak di kerajaan Alexandria, Mesir, yang dipimpin Raja Muqauqis, seorang pemeluk Kristen Koptik. Maria pun beragama yang sama dengan rajanya. Maria selalu mengerjakan tugasnya dengan baik.

Hingga suatu hari, Raja Muqauqis mendapat surat dari rasul Allah, Muhammad bin Abdullah. Surat tersebut berisikan syiar rasulullah untuk mengajaknya memeluk islam.

BACA JUGA  Mereka yang Berhak Menerima Zakat

LEAVE A REPLY