Ilustrasi wayang kulit. (Foto: Shutterstock)

Oleh: Fatchuri Rosidin (Direktur Inspirasi Melintas Zaman)

ZNEWS.ID JAKARTAIni kisah tentang Sayyidina Umar; ksatria tanpa tanding di negeri Arab. Badannya tinggi besar seperti Bimasena, tangannya kuat sekuat palugada, suaranya menggelegar seperti guntur. Ia petarung terbaik di Tanah Arab.

Umar pernah menantang semua ksatria Arab. Dia pernah berkelahi tanpa senjata melawan puluhan orang dari pagi sampai sore. Empat hari berturut-turut. Hingga tak ada lagi ksatria yang berani melawannya.

Kalau disebut namanya, bergetar hati lawan-lawannya. Kalau mendengar langkahnya, mundur semua orang di dekatnya. Kalau sudah menghunus pedang, tak akan disarungkan sebelum musuh terbunuh. Jangankan manusia, setan Iblis pun takut padanya. Kalau Umar lewat di satu jalan, setan akan lari dan mencari jalan lainnya.

Trok tok tok tok tok tok tok tok tok.

Suatu hari, Umar bertemu dengan Abu Lahab, Si Baktak Tukang Fitnah. Baktak berkata kepada Umar, “Wahai Umar Ksatria Tanpa Tanding, di negeri kita ada orang yang mengaku seorang nabi yang diutus oleh Gusti Allah; mengaku membawa agama baru, namanya agama Islam. Dia menghasut anak-anak muda melawan orang tua. Dia menghina patung-patung yang kita sembah. Dia menjanjikan rakyat miskin sederajat dengan para ksatria. Dia memecah belah Suku Arab. Namanya Muhammad. Wahai Umar, Kau adalah Ksatria Tanpa Tanding Tanah Arab. Apakah kau akan diam saja?”.

Darah Umar mendidih. Matanya merah karena marah. Ia ksatria tanpa tanding. Kalau dia diam saja, itu merendahkan harga dirinya.

“Wahai Baktak, Umar tak akan tinggal diam. Aku akan membunuh orang yang memecah-belah negeri Arab!“

Trok tok tok tok tok tok tok tok tok. Semua yang hadir terdiam, imajinasinya melayang membayangkan sosok Umar yang perkasa; keluar dengan mata merah karena murka. Mereka membayangkan Umar seperti Bimasena, ksatria perkasa dalam kisah Pandawa.

BACA JUGA  Peristiwa Penting dalam Sejarah Tahun Baru Islam

LEAVE A REPLY