Giri Kedaton. (Foto: cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Oleh: Fatchuri Rosidin (Direktur Inspirasi Melintas Zaman)

ZNEWS.ID JAKARTA – Perbukitan Giri pagi itu masih diselimuti kabut tipis. Meskipun sinar matahari mulai menerobos pepohonan di sekitar Kedaton, cahayanya belum mampu mengikis dinginnya hawa perbukitan. Di dahan-dahan pohon, burung-burung mengusir dingin dengan bertasbih; memuji Allah yang menciptakan mereka. Suaranya bersahut-sahutan seakan berlomba melantunkan pujian terbaiknya agar didengar para malaikat yang bersiap terbang ke langit melaporkan catatan amal penduduk bumi.

Di pendopo utama, seratusan santri duduk bersila membentuk barisan bershaf-shaf. Di barisan paling depan duduk Raden Prapen dan beberapa santri senior. Sementara, Sunan Dalem, putra ketiga Sunan Giri yang kini memimpin Giri Kedaton dengan gelar Sunan Giri II, duduk bersila menghadap ke arah para santri yang khusyuk mendengarkan petuahnya.

“Sudah lebih dari 100 tahun Giri Kedaton berdiri. Ribuan santri telah belajar di sini dan kemudian menyebar ke seluruh Nusantara untuk mengenalkan Islam kepada rakyat dan para raja. Kita telah mengirimkan banyak ulama ke Sumatra, Malaka, Banjar, Gowa, hingga Ternate. Dan hari ini, kita akan kembali mengirim ulama ke pulau-pulau di sebelah timur Jawa,” kata Sunan Dalem di akhir petuahnya.

“Besok lima orang santri akan berangkat untuk mengenalkan Islam kepada raja dan penduduk Bali, Lombok, dan Sumbawa. Raden Prapen akan memimpin delegasi dakwah ini.”

“Insyaallah kami siap, Kanjeng Sunan,” jawab Raden Prapen dan keempat santri yang duduk di barisan depan bersamaan.

Raden Prapen yang juga putra tertua Sunan Dalem itu pun mempersiapkan diri. Tugas dakwah ini bukan kali pertama baginya. Ia telah beberapa kali ditugaskan untuk menyebarkan Islam di pulau-pulau sekitar Jawa. Giri Kedaton memang kerap mengirimkan santri-santri seniornya untuk menyebarkan Islam ke penjuru nusantara.

BACA JUGA  Menebar Cahaya di Bumi Lombok (4-Habis)

Giri Kedaton dibangun di masa Kerajaan Majapahit; tepatnya pada 1487 M. Pendirinya adalah Raden Paku alias Jaka Samudera alias Maulana Ainul Yaqin; putra ulama besar Maulana Ishaq yang menikah dengan Dewi Sekardadu, putri Raja Blambangan Menak Sembuyu.

LEAVE A REPLY