Tanaman hias Hoya. (Foto: lipi.go.id)

ZNEWS.ID JAKARTA – Sri Rahayu, Peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset pada Rabu (1/9/2021).

Dalam orasinya yang berjudul “Konservasi Biodiversitas dan Pemanfaatan berkelanjutan Hoya di Indonesia” Rahayu menyebutkan bahwa Indonesia merupakan pusat keanekaragaman tanaman hias Hoya di dunia dengan lebih dari 25% populasi di dunia.

“Keunggulan Hoya yaitu berkemampuan tinggi menyerap polutan pada suatu ruangan,” ujar Rahayu, dikutip dari laman resmi LIPI, Selasa (7/9/2021).

Rahayu menyampaikan bahwa Hoya memiliki nilai penting dalam keanekaragaman hayati di Indonesia meliputi nilai ilmiah, ekologis, ekonomis, dan budaya.

Hoya sudah sejak lama telah dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional. Selain itu, Hoya memiliki popularitas sebagai tanaman hias dengan nilai jual yang tinggi.

Berdasarkan survei terhadap kelompok pedagang Hoya, harga bibit berkisar dari Rp 25.000 – Rp 500.000 per setek, dan dari Rp 500.000 – Rp3.000.000 per pot untuk tanaman dewasa. Harga untuk pasar internasional berkisar $ 10 – 100 per setek.

Namun, pemanfaatan ekonomi Hoya di Indonesia masih terbatas dan belum menjadi prioritas konservasi nasional. Ketidaktahuan masyarakat terhadap aturan dan mekanisme serta prinsip konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam hayati berkelanjutan menjadi masalah utama.

BACA JUGA  Survei LIPI: Pemenuhan Kebutuhan Pangan di Masa Pandemi Semakin Sulit

LEAVE A REPLY