Kerangka manusia purba modern berusia 7.200 tahun dinamai “Besse” ditemukan di kawasan Karst Maros-Pangkep, Wallace, Leang Panninge, Desa Wanuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. (Foto: ANTARA/HO-Dokumentasi Nature)

ZNEWS.ID MAKASSAR – Sejumlah peneliti dan arkeolog mengembangkan penelitian fosil kerangka manusia purba modern (Homo Sapiens) yang diperkirakan berusia 7.200 tahun setelah ditemukan di kawasan Karst Maros-Pangkep, Wallace, Leang Panninge, Desa Wanuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

“Sampai saat ini masih terus diteliti. Ke depan saya berharap sekali, kita bisa membuat sampel atau melakukan tes DNA (Deoxyribonucleic Acid) bahwa penduduk utamanya Suku Bugis Makassar, apakah punya hubungan DNA atau tidak dengan penemuan kerangka ini,” kata peneliti dan juga arkeolog Unhas, Iwan Sumantri, dikutip dari Antara, Sabtu 4/9/2021).

Penemuan itu diawali pada 2015, dengan penelitian diinisiasi Prof Akin Duli selalu Dekan FIB Unhas bersama para peneliti dan arkelog beserta tim dari Universitas Sains Malaysia. Mereka melakukan eksplorasi bagian depan lokasi teras Leang Panninge.

Hasil eksplorasi itu ditemukan fosil kerangka manusia purba modern. Sebagai bentuk penghargaan dan kesepakatan para peneliti, fosil kerangka itu dinamai “Besse”, julukan khas bagi anak perempuan Suku Bugis. Namun, proses ekskavasi tidak bisa dilanjutkan karena adanya suatu keterbatasan.

Pada 2017, ekskavasi dilanjutkan dengan pengupasan dinding luar lokasi kerangka itu berdiam. Pada 2018, “Besse” yang diperkirakan berusia 17-18 tahun saat meninggal, diangkat untuk diteliti lebih lanjut.

Pada 2019, penelitian kembali dilanjutkan atas kerja sama Griffith University Australia, Puslit Arkenas Balar, Unhas, serta BPCB dengan melakukan perluasan dan pendalaman galian di lokasi hingga berhasil mengumpulkan lebih banyak sampel untuk pertanggalan sekaligus meneliti DNA

“Ditemukan rangka di situ, diambil pada bagian tengkorak karena masih tersimpan jejak DNA, kita ambil tulang Petros, (tulang) telinga bagian dalam di bagian pelipis tengkorak, ternyata masih ada DNA. Ini prestasi besar,” katanya.

LEAVE A REPLY