Ilustrasi hijrah. (Foto: wallpapercave.com)

ZNEWS.ID JAKARTA – Tatkala usaha pencarian sudah mulai mengendor dan telah tiga hari gejolak orang-orang Quraisy sudah menurun, tanpa membawa hasil apapun, Rasulullah SAW dan rekannya bersiap-siap unntuk pergi ke Madinah.

Mereka berdua mengupah Abdullah bin Uraiqith, seorang penunjuk jalan yang sudah matang dan mengetahui seluk beluk jalan. Sekalipun dia masih memeluk agama orang-orang kafir Quraisy, mereka berdua memercayainya dan menyerahkan dua ekor onta kepadanya. Setelah tiga malam berada di gua, dia diminta datang ke gua dengan membawa dua ekor onta itu.

Maka, pada malam Senin, 16 September tahun 622 M, Abdullah bin Uraiqith ke gua. Pada saat itu Abu Bakar berkata, “Demi ayahku menjadi jaminan, wahai Rasulullah, ambillah satu ontaku ini.” Dia memilih onta yang paling bagus untuk beliau.

Asma’ binti Abu Bakar datang sambil membawa rangsum makanan untuk perjalanan mereka berdua. Namun, rupanya dia lupa tidak membawa tali untuk mengikat rangsum itu.

Oleh karena itu, selagi beliau dan Abu Bakar sudah naik ke atas punggung onta, dan Asma’ hendak mengikatkan rangsum makanan, maka dia tidak mendapatkan tali pada rangsum itu.

Dia segera melepas kain ikat pinggangnya (nithaq) dan menyobeknya menjadi dua bagian. Satu bagian digunakan untuk mengikat rangsum makanan dan satu bagian dia gunakan sebagai ikat pinggang lagi. Karena itu, dia dijuluki Dzatun Nithaqain (wanita yang memiliki dua bagian ikat pinggang).

Selanjutnya Rasulullah SAW berangkat bersama Abu Bakar dan Amir bin Fuhairah. Abdullah bin Uraiqith yang menjadi penunjuk jalan mengambil jalan pesisir.

BACA JUGA  Makna Tahun Baru Islam bagi Dude Harlino dan Keluarga

LEAVE A REPLY