Ilustrasi low vision. (Foto: unsplash.com/Nonsap Visuals)

ZNEWS.ID JAKARTA – Low vision merupakan keterbatasan pandangan yang dialami oleh seseorang. Penyakit ini tidak sama dengan kebutaan. Penyandang low vision hanya kehilangan sebagian penglihatannya dan masih memiliki sisa penglihatan yang dapat digunakan untuk beraktivitas.

Meski sudah dilakukan pengobatan, penurunan penglihatan yang sudah terjadi tidak dapat diperbaiki. Termasuk dengan menggunakan kacamata.

Seseorang dinyatakan low vision (kurang awas) apabila setelah dilakukan berbagai upaya perbaikan terhadap kemampuan penglihatannya, ternyata ketajaman penglihatannya tidak melebihi 20/70. Atau, lapang pandangannya tidak melebihi 20 derajat.

Ciri-ciri penderita Low Vision:

  1. Menulis dan membaca dalam jarak dekat.
  2. Hanya dapat membaca huruf dalam ukuran besar.
  3. Memicingkan mata atau mengerutkan dahi ketika melihat di bawah cahaya yang terang.
  4. Terlihat tidak menatap lurus ke depan ketika memandang sesuatu.
  5. Kondisi mata tampak lain, misalnya terlihat berkabut atau berwarna putih pada bagian luar.

Alat bantu low vision sudah berkembang, dan digolongkan menjadi dua, yaitu alat bantu optik dan non-optik. Alat bantu optik misalnya kaca pembesar (magnifier), teleskop, teropong, dan closed-circuit television (CCTV).

Adapun alat bantu non-optik dari yang paling sederhana yaitu alat pengontrol silau, garis tebal pena dan kertas, pemandu menulis, jam dinding kontras.

Ada juga berbagai alat elektronik lovi friendly yang dilengkapi suara, seperti jam tangan dan kalkulator. Alat yang paling canggih, yaitu program komputer dan telepon genggam bersuara.

Selain alat bantu, penyandang low vision perlu beradaptasi dengan mengikuti latihan orientasi mobilitas agar hidup lebih mandiri. (rsmataachmadwardi.com)

Editor: Agus Wahyudi

BACA JUGA  Mengenal Anatomi Mata dan Fungsinya

LEAVE A REPLY