Ilustrasi beramal. (Foto: Shutterstock)

ZNEWS.ID JAKARTA – Betapa banyak amalan yang tak bernilai hanya karena si pelaku amalan tersebut memandang cukup pada amalan pribadinya. Seolah-olah dengan amalan tersebut ia telah melakukan jutaan amal kebaikan, dan layak mengkavling rumah di surga.

Padahal, para sahabat Rasulullah dan tabi’in saja hampir tidak ada yang memiliki sifat demikian, menganggap diri mereka layak ke surga disebabkan amalan-amalan mereka yang begitu banyak.

Umar bin Khattab radhiallahuanhu, misalnya, sahabat Rasulullah yang telah dijamin surga ini tetap saja berkata: “Andai terdengar suara dari langit yang berkata: ‘Wahai manusia, kalian semua sudah dijamin pasti masuk surga, kecuali satu orang saja’. Sungguh aku khawatir satu orang itu adalah aku’.” (HR Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 138)

Bahkan, orang yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi shallallahu alahi wasallam, Abu Hurairah radhiallahu anhu, ketika sakaratul maut pun berkata: “Aku tidak menangis karena urusan dunia kalian. Aku menangis karena telah jauh perjalananku, namun betapa sedikit bekalku. Sungguh kelak aku akan berakhir di surga atau neraka, dan aku tidak mengetahui mana yang diberikan padaku di antara keduanya.” (HR Nu’aim bin Hammad dalam Az Zuhd, 159)

Subhanallah, betapa orang saleh dan alim yang sejati takkan pernah menganggap dirinya demikian, takkan pernah menganggap amalan kebaikannya sudah cukup untuk mengamankan dirinya dari jilatan api neraka.

Maka, inilah beberapa hal yang peru dilakukan agar diri kita tak pernah merasa telah cukup beramal:

1. Menyadari bahwa Allah membenci orang yang ujub atau bangga diri

Bukankah dengan merasa diri telah cukup melakukan amalan kebaikan, tandanya di hati kita telah tertanam benih ujub yang amat dibenci Allah?

BACA JUGA  Dompet Dhuafa dan J-Rocks Gelorakan Semangat Kebaikan Berbagi Parsel Ramadan

LEAVE A REPLY