Ilustrasi hukum menjual daging kurban. (Foto: dompetdhuafa.org)

ZNEWS.ID JAKARTA – Walaupun menjual daging kurban menjadi salah satu topik yang sering dibahas setiap tahun, namun nyatanya, masih belum banyak orang yang mengerti tentang sebab dan akibat menjual daging kurban tersebut. Oleh karena itu, kita kupas hukum dari menjual daging hewan kurban sesuai syariat berikut ini.

Bagaimana perasaan kita jika hadiah yang kita berikan pada seseorang dijual untuk mendapatkan untung? Perasaan kita akan tertusuk, bukan? Apalagi jika kita melihat ia menjual hadiah itu di depan mata kepala kita sendiri.

Itu baru sedikit perumpamaan yang kita rasakan sehari-hari. Bagaimana jika seseorang menjual daging kurban yang telah dibagikan sesuai porsinya masing-masing? Padahal, daging tersebut telah menjadi bagian hadiah dari Allah SWT untuk kita nikmati sebagian dari kebesarannya setiap satu kali setahun.

Nabi shallallahu laihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang menjual kulit hewan kurbannya maka kurbannya tidak diterima.” (HR Hakim dan Baihaqi; Hadis ini disahihkan oleh Al Bani)

Hadis tersebut menjelaskan secara tegas bahwa menjual daging sampai dengan kulit dari hewan kurban merupakan perbuatan yang tidak dianjurkan. Hal ini berhubungan dengan makna dari kurban itu sendiri merupakan persembahan untuk Allah SWT.

Ketika Imam Ahmad ditanya tentang orang yang menjual daging kurban, ia terperanjat, seraya berkata, “Subhanallah, bagaimana dia berani menjualnya padahal hewan tersebut telah ia persembahkan untuk Allah tabaraka wa taala.”

Penerima Kurban Menjual Dagingnya

Jika pekurban sendiri tidak memperjualbelikan daging kurbannya, lalu bagaimana dengan mereka sebagai orang-orang yang menerima kurban? Bukankah daging kurban tersebut telah menjadi hak milik mereka ketika sudah diberikan?

BACA JUGA  Toreh Hasil Positif, Pencapaian THK Dompet Dhuafa Tahun Ini Lebih dari 65 Milyar

LEAVE A REPLY