Ilustrasi hukum kurban nazar tidak dilaksanakan. (Foto: Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID JAKARTA – Hukum menyembelih hewan kurban menurut jumhur Ulama Syafi‘iyyah, Hanbaliyyah, pendapat paling kuat dalam Malikiyyah, dan salah satu pendapat Imam Abu Yusuf al-Hanafi adalah sunah muakad bagi yang memiliki kelapangan rezeki. Sedangkan hukum kurban menurut Imam Abu Hanifah sendiri adalah wajib bagi yang mampu.

Mengutip dari Buku Panduan Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa, dari segi cakupan pelaksana dalam menunaikan sembelihan ini, hukum sunnah di sini terbagi dua macam:

  • Sunah ‘Ainiyah, yaitu sunah yang dilakukan oleh setiap orang yang mampu.
  • Sunah Kifayah, yaitu sunah yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki tanggung jawab dalam keluarga dengan menyembelih satu ekor atau dua ekor untuk semua keluarga yang ada di dalam rumah.

Turunnya Perintah Hukum Kurban Wajib

Namun, khusus bagi Nabi Muhammad SAW, hukum kurban yang perintahnya turun pada tahun ke-2 Hijriah ini adalah wajib. Sebagaimana ibadah-ibadah sunah lainnya yang justru bagi beliau wajib sementara bagi umatnya adalah sunah, seperti puasa-puasa sunah dan salat sunah. Kurban menjadi wajib menurut jumhur Ulama disebabkan oleh dua hal:

  • Dengan sebab nazar (Bi Nadzr), seperti seseorang yang pernah berkata: “Aku wajibkan atasku kurban tahun ini”, atau “Aku bernazar kurban tahun ini”. Maka saat itu kurban menjadi wajib bagi orang tersebut.
  • Dengan menentukan (Bi Ta‘yîn), maksudnya: Jika seseorang mempunyai seekor kambing lalu berkata: “Kambing ini aku pastikan menjadi kurban”, maka saat itu kurban dengan kambing tersebut adalah wajib. Dalam hal ini sangat berbeda dengan ungkapan seseorang: “Aku mau berkurban dengan kambing ini”, maka dengan ungkapan ini tidak akan menjadi wajib karena dia belum memastikan dan menentukan. Dan sangat berbeda dengan kalimat yang sebelumnya, yaitu “Aku jadikan kambing ini kambing kurban.”
BACA JUGA  Hapus Gundahmu, Tenangkan Jiwamu

Bagaimana Jika Kurban Nazar (Wajib) Tidak Dilaksanakan?

Di samping perubahan hukum kurban dari sunah menjadi wajib yang disebabkan nazar atau ta‘yîn, ulama berbeda pendapat mengenai hukum memakan daging hewan kurban oleh pekurban. Dalam mazhab Hanafi, Maliki, dan sebagian pendapat dalam mazhab Hanbali, pekurban yang bernazar atau men-ta‘yin tetap boleh memakan daging hewan kurbannya.

LEAVE A REPLY