Ilustrasi hukum kurban patungan. (Foto: dompetdhuafa.org)

ZNEWS.ID JAKARTA – Hukum kurban yaitu sunah muakkad atau sunah yang dikuatkan. Hukum ini berdasarkan pendapat Imam Syafii dan Imam Maliki. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, kurban hukumnya wajib bagi yang mampu.

Di Hari Raya Idul Adha, seluruh umat muslim menyambut gembira penyembelihan hewan kurban. Hal ini karena solidaritas sesama muslim benar-benar terbangun.

Mulai dari jual beli hewan kurban di pasar, pembentukan panitia kurban, penyembelihan hewan kurban yang melibatkan banyak orang hingga pembagian daging kurban. Itu semua seakan-akan mengandung efek sosial yang kuat. Bisa dikatakan sebagai penguatan ukhuwah islamiyah.

Bagi orang kaya, makan daging merupakan sesuatu yang biasa. Berbeda dengan orang yang kondisinya kekurangan, mereka makan daging hanya pada saat-saat tertentu. Bahkan ada yang hanya setahun sekali, saat Idul Adha diselenggarakan.

Oleh karena itu, Idul Adha harus dimaksimalkan betul oleh umat muslim. Jangan sampai dalam satu lokasi tidak ada yang melakukan kurban sama sekali. Apalagi berkurban merupakan ibadah yang memang butuh niat tulus, ikhlas, dan sungguh-sungguh.

Seperti yang disebutkan di atas, kurban sangat dianjurkan bagi orang yang mampu. Kurban hampir sama dengan haji, dalam segi kategori mampu. Jika ada kesungguhan dalam berkurban, orang yang sebelumnya pas-pasan bisa dimudahkan Allah hingga tercapai niatnya untuk berkurban.

Sebaliknya, orang yang kaya raya belum tentu mampu untuk melakukan kurban. Bisa jadi karena tidak ada kedekatan ruh keagamaan yang tinggi atau jauh dari kepekaan sosial antarmuslim.

BACA JUGA  Cuaca Cerah Warnai Perayaan Idul Adha 1441 H di Ibu Kota

LEAVE A REPLY