Ahmad Fauzi Qosim (Pegiat Dakwah dan Kemanusiaan, Sekretaris Dewan Syariah Dompet Dhuafa). (Foto: Dompet Dhuafa)

Oleh: Ahmad Fauzi Qosim (Pegiat Dakwah dan Kemanusiaan, Sekretaris Dewan Syariah Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID JAKARTA – Dalam ibadah haji ada analogi-analogi dengan perjalanan manusia ke akhirat, di antaranya ialah kebutuhan akan ampunan Allah. Dan, ibadah haji menjadi sebab diampunkannya dosa.

Rasulullah SAW bersabda: “Siapa orang berhaji kemudian ia tidak melakukan perbuatan keji serta kefasikan, maka ia kembali bersih (diampunkan) dari dosa-dosanya sebagaimana ketika ia dilahirkan ibunya.” (Mutafaq ‘Alaih)

Maghfirah (ampunan) adalah perkara yang sangat dibutuhkan oleh manusia ketika menempuh perjalanan akhirat. Gerbang akhirat itu dimulai dari kematian. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita ketika menguburkan jenazah untuk memohonkan ampunan dan keteguhan kepada Allah.

“Istaghfiru li akhikum was-alu lahu bit tatsbit fainnahul aan yus-al.” (HR Abu Daud)

“Mohonkanlah ampunan dan keteguhan kepada Allah untuk saudaramu ini karena sebentar lagi ia akan ditanyai.”

Ketika para calon hujjaj/haji meninggalkan rumahnya, ia harus meninggalkan dan berpisah dengan keluarga, sanak saudara, dan orang-orang dekat yang dicintainya. Meninggalkan harta bendanya selain bekal yang diperlukan selama perjalanannya, dan ia harus meninggalkan negeri, kampung halaman dan Tanah Air kelahirannya untuk memenuhi panggilan Allah SWT menuju Tanah Suci.

Peristiwa itulah yang akan terjadi ketika seseorang dipanggil oleh Allah SWT dengan kematian menuju tanah abadi (kubur).

BACA JUGA  Libur Idul Adha, Jasa Marga Tutup Tol Layang MBZ 16-22 Juli

LEAVE A REPLY