Ilustrasi konflik. (Foto: ibelieve.com)

Oleh: Wahyu Pratama Nur Anggara (PM Bakti Nusa 9 Surabaya)

ZNEWS.ID JAKARTA – Konflik identik dengan situasi maupun kondisi yang tidak kondusif. Adanya situasi dan kondisi ketika terjadinya konflik lantas dipersepsikan sebagai suatu hal yang cenderung negatif.

Hal tersebut dianggap sebagai mainstream yang terjadi pada aktivitas di lingkungan sosial-masyarakat. Aktivitas mainstream yang membudaya tentu berakibat pada terciptanya iklim yang cenderung menemui stagnancy dan conservative. Tidak jarang dua dampak tersebut memperlambat penerapan perubahan.

Begitu halnya dengan konflik. Perlu manajemen yang tepat untuk mengelola situasi dan kondisi tersebut. Hal ini ditujukan agar didapat situasi dan kondisi ideal yang ingin dicapai. Kondisi ideal ini tentu menuntut adanya perubahan dan iklim yang progresif.

Lantas, bagaimana konflik kemudian dapat ditransformasikan? Jawabannya ada dua, yakni sebagai hambatan atau kesempatan mencapai tujuan.

“There are three principles in a man’s being and life: The principle of thought, the principle of speech, and the principle of action. The origin of all conflict between me and my fellow-men is that I do not say what I mean and I don’t do what I say.” Martin Buber, Filsuf Jerman

Bisa dipastikan bahwa dalam aktivitas sosial bermasyarakat, utamanya dalam organisasi, setiap hal dikerjakan secara bersama-sama. Alhasil, kondisi demikian tentu membutuhkan kerja tim. Namun, dalam dinamikanya tentu akan timbul konflik yang harus dihadapi.

Adanya perbedaan pendapat sebagai dinamika merupakan hal yang lumrah, bahkan dapat menghasilkan penyelesaian konflik yang variatif. Di lain pihak, bila silang pendapat terjadi dalam kurun waktu yang lama dengan pihak yang sama, maka bisa dipastikan bahwa iklim yang terbangun akan didominasi oleh konflik.

BACA JUGA  China Bersikukuh Latihan Militer Dekat Taiwan Sebagai Tindakan yang Diperlukan

LEAVE A REPLY