Ilustrasi. (Foto: Ist)

Oleh: Puti Berkah Azurah (PM Bakti Nusa 10 Padang)

ZNEWS.ID JAKARTA – Dua tahun lalu, seseorang pernah bertanya kepada saya. Pertanyaannya cukup mengejutkan dan membuat saya mengambil jeda beberapa detik untuk berpikir.

”Apakah agama yang kamu anut saat ini adalah pilihanmu atau pilihan keluargamu?”

Saya adalah seorang muslimah. Jika pertanyaan itu datang dari seorang muslim, maka saya tidak akan sekaget itu. Namun, masalahnya adalah pertanyaan ini datang dari dosen saya, seorang perempuan non-muslim yang berusia sekitar 30-40an tahun, di kelas Japanese Culture Osaka City University, tempat saya melaksanakan program student mobility saat semester 7.

Saat itu, kami sedang membahas buku mengenai perkembangan Jepang dalam berbagai bidang, termasuk aspek keagamaan. Saya sadar bahwa apapun jawaban yang keluar dari mulut saya yang notabene adalah representatif muslim di mata beliau, sedikit banyaknya akan memengaruhi penilaian beliau terhadap muslim di Indonesia, terutama pada aspek kebebasan beragama.

Pertanyaan di atas mungkin terdengar agak tidak sopan mengingat Jepang adalah negara yang sangat menghormati privasi orang lain. Tapi, saat itu kebetulan situasinya sedang dalam diskusi akademik yang sesuai dengan konteks pertanyaan tersebut.

Redaksi kalimat beliau pun tidak sefrontal itu. Lebih jelasnya, beliau bertanya, “Bagaimana kebiasaan di Indonesia? Apakah keluarga membebaskan anak-anaknya dalam memilih kepercayaan mereka? Apakah agama yang kamu anut saat ini adalah pilihanmu atau pilihan keluargamu?”

Berdasarkan buku yang kami bahas saat itu, dikatakan bahwa mayoritas masyarakat Jepang cenderung didefinisikan sebagai mushūkyō atau “without religion” karena mereka tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari suatu kelompok agama tertentu.

BACA JUGA  Perbedaan Doa Buka Puasa yang Wajib Kamu Ketahui

LEAVE A REPLY