Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa (LKC DD) Papua menggelar sosialisasi gizi seimbang dan edukasi Kesehatan Reproduksi (Kespro) di SDN (Sekolah Dasar Negeri) Gurabesi, Jayapura, Kamis (21/1/2021). (Foto: LKC DD Papua)

ZNEWS.ID JAKARTA – Edukasi mengenai gizi sejak dini kepada masyarakat sangat penting dalam upaya menekan kasus malnutrisi pada anak. Pakar kesehatan anak, Prof Rini Sekartini, mengatakan bahwa hal itu sangat penting dalam rangka mencetak generasi penerus bangsa yang sehat dan berdampak pada peningkatan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia di kemudian hari.

Menurut Rini, anak yang terlahir dengan gizi kurang berpotensi melahirkan anak dengan kondisi yang sama. Mata rantai inilah yang mesti diputus dengan berbagai macam upaya.

“Definisi anak, kan, sejak dari dalam kandungan. Status gizi kurang pada ibu dan asupan makanan rendah gizi dapat berdampak pada saat proses kehamilan. Kondisi ini bisa menyebabkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, prematur, dan meningkatkan risiko anak mengalami gizi kurang, gizi buruk, atau pun stunting,” jelas Rini dalam keterangan tertulis, dilansir dari Antara, Selasa (25/5/2021).

Persoalan malnutrisi di Indonesia masih menjadi tantangan dalam upaya membangun generasi Indonesia yang berkualitas. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada anak balita di Indonesia mencapai 17,7 persen, sedangkan stunting mencapai 30,8 persen.

Kasus malnutrisi bukan hanya menjadi tumpuan dalam satu bidang saja. Edukasi gizi, sistem reproduksi, sanitasi, pola asuh hingga faktor ekonomi turut andil dalam upaya mengentaskan kasus malnutrisi di Indonesia.

Bahkan jika ditelaah lebih dalam kasus malnutrisi lingkaran siklus, di mana anak yang terlahir dengan gizi kurang akan tumbuh menjadi remaja dengan status kurang gizi dan berpotensi kembali melahirkan anak yang kurang gizi. Pada posisi ini, anak menjadi fase yang rentan terhadap kasus malnutrisi dan berpotensi berulang ke generasi berikutnya.

BACA JUGA  Integrasi Penanggulangan Stunting dan TB

Beberapa faktor tersebut menjadi landasan pada studi lapangan South-East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) yang dilakukan di 21 kabupaten/kota pada 15 provinsi di Indonesia dan melibatkan sekitar 25 personil dari kalangan dokter, ahli gizi, kesehatan masyarakat dan bidang olahraga.

LEAVE A REPLY