Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) University Hardinsyah. ANTARA/HO/IPB University

ZNEWS.ID, JAKARTA – Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) University Hardinsyah menyebutkan berpuasa baik puasa wajib di bulan  Ramadhan, puasa Senin-Kamis, puasa Syawal maupun puasa sunnah lainnya dapat meningkatkan imunitas sehingga tubuh tak mudah terserang penyakit.

“Kajian-kajian puasa akhir-akhir ini mengungkap bahwa puasa mampu meningkatkan bakteri baik dan menurunkan bakteri tidak baik pada tubuh. Ini secara tidak langsung meningkatkan imunitas,” ujar Hardinsyah dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (20/5/2021).

Secara medis, ia menjelaskan bahwa proses peningkatan imunitas tubuh bisa melalui pemenuhan kebutuhan lauk pauk, sayur, dan buah yang mengandung asam amino, vitamin B, D, A, mineral zink, besi dan magnesium.

Sementara ketika puasa, salah satu manfaat uniknya yakni bila tubuh puasa dengan kondisi defisit energi minimal selama sekitar 12 jam berkali-kali, maka akan terjadi autofagi.

Autofagi berarti sel-sel fagasom diaktifkan untuk menangkap, memakan, dan menghancurkan sel-sel yang tidak aktif, yang loyo, dan berusia lanjut.

“Dalam ilmu imunitas dan mikrobiologi juga dikenal proses seperti autofagi yang disebut dengan senofagi (xenophagy). Xeno itu artinya asing, dan phagy memakan. Jadi senofagi adalah proses sel-sel imunitas mirip fagasom seperti makrofah menangkap dan menghancurkan benda-benda asing atau patogen yang masuk ke dalam tubuh,” kata dia.

Menurut Guru Besar IPB University itu selama berpuasa dengan baik dan benar disertai defisit sekitar 10-30 persen energi, aktivitas autofagi dan senofagi meningkat pesat dan tubuh semakin mengalami detoks atau pembersihan.

BACA JUGA  Kuliner Jagung Titi dan Nuansa Ramadan di Negeri Lamahala

LEAVE A REPLY