Nurkim, Penerima Manfaat Tebar Zakat Fitrah (TZF) Dompet Dhuafa. (Foto: Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID PATI – Menambang pasir tentu bukan hal yang ringan. Setiap pagi, Nurkim beranjak dari rumahnya menghampiri Sungai Pegunungan Muria. Ia menuruni jalanan lumpur yang licin untuk sampai di aliran sungai.

Kedua tangannya masuk ke dasar sungai beserta dengan serokan yang ia pegang. Setenggok pasir yang berhasil diangkat, ia kumpulkan menjadi gundukan-gundukan pasir untuk dijual.

Nurkim harus menambang pasir setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya sehari-hari. Apalagi, pria 50 tahun itu harus terus membiayai sekolah anaknya yang masih tingkat SMA. Sedangkan, istrinya telah lama meninggalkannya karena alasan ekonomi.

“Ya, begini kegiatan saya sehari-hari. Ngambil pasir di sungai terus saya kumpulkan di belakang rumah. Demi bertahan hidup dan anak, saya jalani dengan senang hati,” ujarnya.

Nurkim harus menambang pasir setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidup dan sekolah anaknya yang masih tingkat SMA. (Foto: Dompet Dhuafa)

Tiap hari, Nurkim mengangkut 10-20 tenggok pasir. Jerih payah Nurkim ternyata tidak banyak yang dihasilkan. Ia mengaku, satu kubik pasir memiliki harga 100-120 ribu rupiah. Itu pun tidak secara langsung terbeli.

Untuk menjualnya juga tidak mudah. Pasir yang ia kumpulkan dapat terbeli hanya jika ada yang membangun rumah di daerahnya, Desa Bageng, Gembong, Pati, Jawa Tengah.

Penghasilan tersebut terbilang sangat kecil jika dibanding dengan kebutuhan hidupnya yang masih harus menyekolahkan anaknya.

BACA JUGA  Selamat Jalan Desainer Mutitalenta, Barli Asmara

LEAVE A REPLY