Gas airmata dan pemadam api berterbangan diatas para pengunjuk rasa saat mereka berlindung di balik perisai ketika bentrok dengan polisi pada aksi protes menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, Senin (1/3/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/AWW/djo

ZNEWS.ID, JAKARTA – PBB memberi peringatan soal Myanmar. Lembaga itu menyebut krisis yang ada menuju ke konflik “besar-besaran” ala Suriah.

Kepala Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet memperingatkan kemungkinan kejahatan kemanusiaan terjadi. Ia mendesak negara-negara mengambil tindakan yang mendorong junta militer menghentikan apa yang disebutnya “penindasan dan pembantaian ke rakyat”.

“Saya khawatir situasi di Myanmar menuju konflik besar-besaran,” katanya dalam sebuah pernyataan dilaporkan AFP, Rabu (14/4/2021).

Setidaknya 710 warga sipil tewas hingga Senin malam waktu setempat. Sebanyak 50 di antaranya adalah anak-anak.

“Ada kemiripan yang jelas dengan Suriah di 2011,” ujarnya lagi memperingatkan perang saudara di negeri Timur Tengah itu, yang telah menewaskan 400.000 orang dan memaksa enam juta warga mengungsi.

Situasi Myanmar kacau sejak junta menahan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi. Itu dianggap kudeta pemerintahan sipil oleh warga dan komunitas internasional.

Di saat junta makin keras ke warga, milisi etnis di beberapa wilayah perbatasan meningkatkan serangan ke junta militer dan polisi. Ini menimbulkan kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.

Militer bahkan beberapa kali melakukan serangan udara untuk membalas milisi, sebagaimana dilaporkan Free Burma Rangers. Selain itu 260 selebriti juga masuk dalam daftar buron karena menyuarakan penolakan pada pemerintahan militer.

 

Editor: Dhany

BACA JUGA  Hingga Saat Ini 18 Orang Tewas dalam Unjuk Rasa Pro-Demokrasi di Myanmar

LEAVE A REPLY