Ilustrasi. (Foto: etahfizh.org)

Oleh: Zayd Sayfullah (Trainer TOPS, Manajer Peningkatan Mutu Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan)

ZNEWS.ID JAKARTA – Sistem kehidupan yang berasas sekulerisme-liberalisme telah mencengkram kuat umat Islam saat ini. Sekulerisme tersebut benar-benar telah berhasil menjadikan kaum muslimin tidak menerapkan ajaran Islam secara total. Bahkan, ada yang sampai pada tingkatan merasa asing dan alergi dengan ajaran agamanya sendiri.

Padahal, Islam adalah agama kamilan (sempurna) dan syamilan (menyeluruh) yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Jangankan urusan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan keamanan, urusan masuk ke toilet pun dalam Islam ada aturannya. Baca doa, lalu masuk ke toilet dengan kaki kiri terlebih dahulu, dan seterusnya, dan seterusnya.

Dalam bidang pendidikan, sekulerisme telah lama diterapkan. Dalam buku “Islamic Sciences”, S Waqar Ahmad Husaini menyatakan bahwa pendidikan di dunia Islam masih mengacu pada peradaban-peradaban lain di luar Islam, yakni mengikuti model pendidikan Marxis-Leninis atau mengikuti model Barat-sekular.

Dan, itu memang terbukti. Di Indonesia, yang tampak kasat mata adalah dikotomi antara pendidikan “agama” di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain. Pendidikan “agama” melalui madrasah, institut agama dan pesantren yang dikelola di bawah Kementerian Agama, sedangkan pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah dan kejuruan, serta perguruan tinggi umum yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Meskipun sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini tidak berdasarkan Islam, bukan berarti kita tidak bisa menjalankan konsep pendidikan sesuai dengan tuntunan  Islam. Kita dapat mengimplementasikan pendidikan Islam, walaupun tidak bisa sesempurna dan seefektif ketika adanya negara yang menerapkan syariah.

Karena itu, agar generasi muda Islam tidak terjebak dalam pandangan kehidupan yang jauh dari Islam dan juga supaya generasi masa depan dapat tumbuh dengan kepribadian yang sesuai arahan Islam, maka sekolah dan keluarga (sebagai unsur pelaksana pendidikan selain masyarakat), harus mau dan mampu menerapkan konsep pendidikan Islam seoptimal mungkin.

Kepala sekolah sebagai manajer sekolah dan guru sebagai manajer kelas, mesti membuang jauh-jauh sekulerisme dalam menjalankan pendidikan. Dalam mengelola sekolah, kepala sekolah harus menerapkan manajemen sekolah yang sesuai dengan ajaran Islam, baik kurikulum, sistem pembelajaran maupun budaya sekolahnya. Salah satunya dengan menstandarkan pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru di kelas ajar masing-masing.

LEAVE A REPLY